Kamis, 16 Juli 2015

Puisi Pablo Neruda



YANG KUMINTA DARI SUNYI

kini mereka meninggalkanku dalam damai
kini mereka terbiasa dengan ketiadaanku

perlahan kupejamkan mata

yang kudambakan hanyalah lima hal

pertama cinta yang abadi

kedua, menyaksikan musim gugur.
aku sirna tanpa dedaunan yang melayang
kemudian jatuh menimpa bumi

ketiga, musim dingin yang khidmat
hujan yang kucinta, usapan hangat api
pada cuaca dingin yang berat

keempat, musim panas
yang terhempas bagaikan sebutir semangka

dan yang kelima, matamu
Matilde, cintaku,
aku tidak akan tidur lelap tanpa matamu
kelak aku akan tiada
namun senantiasa hidup dalam tatapanmu
aku bersiap menyambut musim semi
agar pandangmu selalu menyertaiku

kawan, semua itu lah yang kudambakan.
berdekatan dengan hal-hal yang fana,
berdekatan dengan segalanya.

kini mereka kupersilahkan pergi,
 jika memang itu yang mereka inginkan

aku telah lama menjalani hidup
dan akan datang masanya
ketika dengan setengah terpaksa mereka melupakanku
menghapus namaku dari setiap papan tulis
namun demikian, hatiku menyimpan keluasan yang tak terkira

demikian lah, aku mengajukan permintaan kepada sunyi
namun bukan berarti aku akan mati
yang tejadi justru sebaliknya, aku akan terus hidup

akan terus mengada, terus mewujud


aku akan tiada, seandainya
ladang dalam diriku berhenti bersemi
mula-mula sebuah tunas yang timbul dari permukaan tanah
tunas yang menjangkau cahaya
namun bumi yang pengasih ini, begitu gelap
dan jauh di dalam diriku juga terdapat sehampar kegelapan.
aku adalah sumur dalam genangan air
malam meletakkan bintang-bintang dibelakangku
dan melesat melintasi padang-padang

itu lah hal-hal yang kudapatkan
dari rentang panjang usia hidupku
dan aku ingin hidup seribu tahun lagi

tak pernah kurasakan begitu jernihnya suaraku
begitu sarat kecupan yang kupunya

kini, pagi yang datang kali ini, seperti pagi-pagi yang lalu
cahaya bagaikan kerumunan lebah.

dan biarkan aku hening bersama hari

aku memohon pergi
untuk terlahir kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar