Sabtu, 03 Agustus 2013

BEBERAPA HAL YANG MENYEBABKAN Q BERHENTI MENULIS FIKSI


Prolog

Q seorang penulis fiksi kelas kakap tiba-tiba berhenti menulis. Bukan karna kehabisan ide. Tidak, tidak sama sekali. Ide-ide mendatangi Q seperti laron yang berkerumun di sekitar lampu neon pada musim penghujan. Masalah finansial? Memang penulis adalah profesi yang tidak bisa menghasilkan uang berlimpah. Tidak seperti pengusaha, dokter, pengacara dan lain sebagainya. Tapi Q adalah penulis kelas kakap dengan pembaca fanatik yang cukup banyak . Para pembaca setianya senantiasa menunggu karya-karya terbarunya. Setiap kali karya Q terbit dalam hitungan hari bukunya laris di pasaran dan masuk dalam jajaran TOP 10 di setiap toko buku, selain itu beberapa novelnya telah diangkat ke layar lebar. Jadi mitos penulis itu kere tidak berlaku bagi Q. Lagi pula selain menulis Q juga bekerja paruh waktu sebagai Copy Writer di Strawberyhills, sebuah biro periklanan ternama. Lalu apa yang menyebabkan Q mendadak berhenti menulis? Berikut adalah beberapa alasan kenapa Q memutuskan untuk gantung pena.

MIMPI

Mimpi merupakan hal yang remeh sekaligus serius. Remeh karna mimpi hanya fenomena lumrah yang dialami banyak orang. Serius karna toh ada segelintir orang yang mengadakan studi khusus terhadap fenomena ini.Beberapa orang memiliki keyakinan bahwa mimpi adalah isyarat tentang hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Bahkan nun jauh di negeri X, ada sebuah departemen yang mengurus mimpi-mimpi rakyatnya. Ada juga Seorang pemikir yang menggunakan mimpi sebagai medium memahami kejiwaan manusia.

Pada mulanya adalah mimpi. Q bermimpi menjadi tokoh dalam sebuah sebuah fiksi yang kelewat melankolis. Mimpi ini terjadi berulang-ulang. Sebelumnya Q tidak pernah berpikir bahwa menjadi tokoh dalam sebuah fiksi yang melankolis adalah suatu hal yang menyakitkan sampai akhirnya ia bermimpi demikian. Q mengerti arti kehilangan secara lebih mendalam. 

Dalam mimpinya Q terlibat bermacam peristiwa menyedihkan yang sebenarnay cukup klise. Cinta yang tidakdisepakati orang tua, cinta yang terputus oleh maut, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang retak oleh pengkhianatan, dan jenis-jenis cinta klise lain. Q selalu terdampar dalam sebuah seting yang lazim muncul dalam sebuha fiksi melankolis, sebuah taman, pelabuhan, stasiun, senja, hujan, dan lain-lain, dan lain-lain. 

Jika saja mimpi itu berhenti sebatas mimpi, mungkin Q tidak akan menderita. Namun mimpi itu terasa begitu nyata. Tiap kali terjaga telinganya seperti menangkap suara narator gaib yang menceritakan segala hal yang tengah ia lakukan. “Q duduk di atas meja kerjanya sambil menghisap rokok, Q menulis bab pertama sebuah novel yang sudah pasti dinantikan oleh para pembaca setianya, Q tengah melakukan kebiasaan anehnya membaca novel sambil buang air besar (Q bahkan pernah menamatkan Death In Vennice karya Thomas Mann di kakus, tentu saja butuh ratusan kali buang air besar untuk menamatkan novel tersebut)” demikianlah kira-kira suara narator gaib tersebut.  

Perasaan Q tertekan. Ia merasa dibuntuti entah oleh siapa. Seperti ada yang mengikutinya, membayang-bayanginya. Ia serasa benar-benar menjadi tokoh dalam sebuah fiksi, dan sebagaimana tokoh-tokoh fiksi takdirnya ditentukan oleh sang penulis. Tapi siapakah penulis bagi kisah tak menentu yang tengah ia jalani?

TEROR TOKOH-TOKOH REKAAN

Tepat tengah malam ponsel Q berdering. Semenjak mendapatkan mimpi-mimpi aneh yang sudah diceritakan di atas Q mendadak terserang Insonmia. Q meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil di samping ranjangnya.

“Halo, benar ini Tuan Q”

“Ya, saya”

“Tuan Q penulis (menyebutkan sebuah judul cerpen)”

“Ya, saya yang mengarang cerita tersebut”

“Anda sama sekali tidak mengenal suara saya” kata suara disebrang.

Alis Q terangkat sebelah. Ia mengingat seseorang yang ia kenal yang memiliki suara serak yang khas, suara yang mirip dengan suara Louis Armstrong. Tidak, ia tidak memiliki kenalan dengan suara semacam itu.

“Baiklah, mungkin anda lupa, tapi tentunya anda tidak akan lupa dengan seorang tokoh cerita yang anda terlantarkan begitu saja dalam sebuah penantian yang panjang. Saya Alberto Moron, Tuan Q. Tokoh dalam (menyebut sebuah judul cerpen). Yang anda biarkan terus mengembara, terus  mencari dan senantiasa kehilangan. Padahal saya bukan Ahasveros, tuan. Saya telah tuan takdirkan untuk mengembara ke wilayah-wilayah aneh. Melintasi negeri dengan matahari yang senantiasa setengah tenggelam (di sana Alberto Moron berjumpa dengan Sukab seorang pengembara abadi seperti dirinya),  terbang ke planet venus untuk sekedar terjebak dalam hujan yang abadi ( Ia bertemu dengan seorang astronaut tua di sebuah bangunan bernama kubah matahari, si astronot tua ini menceritakan sebuah kejadian mengerikan yang ia alami setahun lalu, kejadian mengerikan yang merenggut nyawa tiga temannya), tuan seret saya ke dalam sekian peristiwa yang sebagian besar sangat saya benci. Dari mulai revolusi sosial hingga hingga pesta-pesta panjang di rumah seorang bilyuner sinting(Si Bilyuner sinting ini berharap menemukan kekasih masa mudanya diantara jubelan tamu-tamu  tak diundang, ia memang tidak menyebarkan undangan, pesta-pesta besar tersebut ia niatkan sebagai magnet yang akan menarik perhatian kekasih masa silamnya tersebut) . Siapakah saya sebenarnya bagi anda Tuan Q. Apakah saya tidak memiliki hak untuk hidup normal. Memiliki pekerjaan tetap, rumah sederhana, dan sebuah keluarga kecil yang berbahagia. Melakukan hal-hal yang juga biasa-biasa saja. Memancing ikan di pantai, memelihara burung, memebri makan ika koi, atau mengoleksi perangko. Saya bosan menjalani hal-hal yang serba fantastis ini Tuan. Apa gunanya semua petualangan ajaib ini jika saya belum juga bisa bertemu dengan Lucia Del Monde. Kenapa anda harus menciptakan tokoh seperti Lucia Del Monde, yang membelokkan arah nasib saya secara drastis…” Seseorang yang mengaku sebagai Alberto Moron terus mengoceh sangat panjang, begitu panjang. Kata-katanya menyerupai sungai, seperti sungai. Sementara Q hanya terbaring lemas di kasurnya. Ia telah meletakkan ponselnya di atas meja ketika ocehan Alberto Moron baru berjalan 3 menit. Ia bisa mendengar suara samar Alberto Moron yang terus mengoceh. Kepala Q pening. Dunia seperti es yang tiba-tiba mencair.

Pada kesempatan lain ia membaca berita kriminal di koran tentang seorang remaja pria yang bunuh diri, polisi tidak menemukan apa motif bunuh diri tersebut. Si korban tidak meninggalkan pesan apa pun. Ketika pihak kepolisian menggali informasi dari kedua orang tua korban, mereka bahkan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi karna Mortes (begitulah nama remaja yang iseng melepas nyawanya tersebut) sepengetahuan mereka adalah remaja baik-baik, nilai sekolahnya tidak buruk. Tidak merokok apalagi minum-minuman keras.

Mortes bunuh diri dengan cara menyambungkan selang ke knalpot mobil. Memasukkan selang knalpot tersebut melalui jendela mobil dan menutup celah yang tersisa dengan lakban, kemudian dia menstarter mobil. Ruang sempit mobil itu sesak oleh asap knalpot kemudian ia sesak napas, kemudian paru-parunya padat oleh karbondioksida dan akhirnya ia mati.

“ini mirip dengan sebuah adegan bunuh diri dalam novel yang pernah aku baca” ujar seorang polisi muda yang dari tampangnya sepertinya tidak memiliki keinginan kuat untuk menjadi 
polisi

Q segera tersentak. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi! Ia terkejut. Sebab Mortes dan aksi bunuh dirinya adalah bagian kecil dalam novel yang tengah ia tulis. Q bangkit dari duduknya berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan, bukan seperti, dia memang benar-benar dilanda kebingungan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi! Kalimat itu terus menerus kelaur dari bibirnya yang pucat karena nikotin.

Saat itu jam di dinding menunjukkan pukul setengah sembilan. Masih pagi. Sebentar lagi semestinya ia masuk ke dalam kamar kerjanya lalu menulis selama berjam-jam, tapi tidak untuk kali ini. Q berpikir ada yang aneh dengan dirinya. Dengan kehiduapan yang sedang ia jalani. Seolah ada tangan gaib yang membengkokkan jalan hidupnya yang padamulanya lurus, tidak cukup membengkokkan si tangan gaib itu mengobrak-abrik jalan hidupnya menjadi rangkaian labirin yang sangat rumit.

Ini gila! Benar-benar gila! Memang demikian adanya segalanya berada di luar jangkauan nalarnya. Ini lebih gila dari segala fiksi yang ditulis olehnya. Aliran sungai waktu yang awalnya mengalir lancar tiba-tiba meluap dan tumpah, segalanya menjadi sengkarut, tidak jelas lagi mana yang fiksi mana yang nyata.

Bukan hanya sekali Q menyisipkan adegan-adegan kematian dalam fiksi-fiksinya. Entah sudah berapa orang yang tanpa sengaja (benarkah tanpa sengaja?) ia jerumuskan dalam sebuah aksi kematian yang tidak jarang dramatis. Q  merasa telah menjadi pembunuh. Ini gila! Benar-benar gila!  

Saat ini Q berbaring di kamar yang gelap, lampu telah ia matikan, gorden dan pintu telah ia 
tutup rapat-rapat. Sebelum itu terlebih dahulu ia menenggak obat penenang. Sambil berbaring ia rasakan kamar yang semakin menyempit, telinganya mendengar pekikan Mortes 10 detik sebelum nyawanya benar-benar melompat keluar dari jasadnya, menembus dinding mobil dan melesat cepat ke langit. Tampaknya obat penenang tidak bekerja dengan baik. Q memejamkan mata, syaraf seluruh tubuhnya menegang. Jika mampu ia juga ingin memejamkan pendengarannya, memejamkan kesadarannya. Kamar gelap itu perlahan-lahan menyempit. Suasana menjadi pepat. Perlahan-lahan Q merasakan tubuhnya hancur, berubah menjadi molekul-molekul atom. Tiba-tiba ada suara jangkrik diiringi benda yang bergetar, itu ponsel Q yang bordering, molekul-molekul itu kembali menyatu kamar yang sesak perlahan meluas dan Q meraih ponsel yang tergeletak di tidak jauh di sampingnya.

“Halo benar ini Tuan Q, kenalkan nama saya Lucia Del Monde …”

Ruang menyempit seketika, tubuh Q kembali lebur menjadi molekul-molekul atom yang sangat kecil, begitu kecil

 BUNUH DIRI?

Sejenius apa pun seorang penulis, seorang musisi, seorang pelukis ia tidak akan lagi mampu menelurkan sebuah masterpiece ketika nyawanya lepas. Barangkali ini pembicaraan yang sangat tidak penting. Kita tidak akan bisa lagi mendengarkan lagu baru karya Jim Morrison setelah ia di temukan tewas di  bathub di sebuah hotel di paris. Akting Heath Ledger di film The Darkknight begitu memukau, tapi itu lah akting terbaik sekaligus terakhirnya kecuali Hollywood mengizinkan hantu untuk ambil peran dalam sebuah film. Fiksi-fiksi  machois Hemingway pun selesai sudah ketika peluru dari sebuah senapan berburu menembus kepalanya.

Pada sebuah dinihari yang tenang, Q teringat pada adegan tragis ketika Hemingway tua mendekatkan ujung senapan berburu ke pelipisnya, jarinya yang keriput menarik pelatuk, dan “Dor!” semuanya selesai. Sang Maestro memutuskan bunuh diri setelah merasa tidak lagi menghasilkan karya bermutu, karya yang menggemparkan dunia. “aku tidak seperti Hemingway, aku masih mampu menghasilakn karya-karya monumental yang ditunggu-tunggu para pembaca setiaku, tapi barangkali Hemingway tidak merasakan betapa menderitanya diteror tokoh-tokoh yang hadir menyerupia hantu. Hemingway mungkin akan bunuh diri lebih cepat jika saja Santiago, si lelaki tua malang yang berhari-hari terombang-ambing di lautan karna belum memperoleh ikan, barangkali. Apa yang harus aku lakukan? Bunuh diri?” Q berbicara dalam hati.

Ketika tengah asyik memikirkan semua itu ponselnya bordering. Q lekas mengangkatnya.

“Tuan, saya Alberto Moron” jawab suara di sebrang telepon, Q langsung mematikan ponsel.
Tiba-tiba terlintas pikiran ini : Apa salahnya bunuh diri, toh aku memiliki reputasi sebagai seorang pengarang besar. Barangkali caraku mengakhiri hidup akan menyempurnakan kebesaranku, bukankah beberapa penulis besar melakukan tindakan mengerikan ini: Mishima,  Kawabata, Mayakovsksi, Gogol,

Jendela yang tidak dikunci bergerak-gerak tertiup angin. Tampak kilat muncul di langit yang hitam pekat, bagaikan goresan seorang pelukis amatir yang hanya mampu melukis abstrak. Lima menit kemudian gerimis turun. Dan di dalam kamar Q tengah menuliskan sesutau di atas selembar kertas, entah apa yang tengah ia tulis. Di sisinya terdapat sebotol racun serangga.

EPILOG

Para pembaca yang budiman bebas menerka-nerka apa yang  tengah di tulis oleh Q, dan akan ia apakan sebotol racun serangga itu. Sebagian besar pasti akan menerkan bahwa ia sedang menulis surat wasiat sebelum akhirnya bunuh diri. Bisa benar, tapi bisa juga salah. Namun cerita ini mesti diakhiri dengan adegan sebuah ponsel yang terus menerus berdering tanpas seorang pun yang mengangkatnya. Dengan lansakp sebuah kamar yang temaram, suara derit engsel jendela yang digerakkan angin dan hujan yang semakin besar.
Sayup-sayup terdengar suara  Nocturne No.20 In C Sharp Minor-Chopin, dari ponsel yang tidak kunjung diangkat itu.

Apakah Q memutuskan bunuh diri? Entahlah, tapi yang jelas Q tidak akan pernah menulis lagi.  

Yogyakrat, 2013  

2 komentar:

  1. Kok bisa ya menulis dengan kalimat sebanyak tiu,,

    salut deh

    BalasHapus
  2. mantap...semoga sukses selalu...

    BalasHapus