Minggu, 03 Februari 2013

THE DARK KNIHGT RISES : SEKALI LAGI, TENTANG RAPUHNYA SANG SUPERHERO


Sutradara: Christopher Nolan
Penulis Naskah: Christopher Nolan / Jonathan Nolan
Pemain: Christian Bale / Gary Oldman / Michael Caine / Anne Hathaway / Tom Hardy / Marion Cotillard / Morgan Freeman / Joseph Gordon-Levitt

“Nolan adalah sutradara pertama yang dengan sangat kejam memperlakukan seorang super hero”, ujar seorang kawan setelah film The Dark Knight Rises selesai kami tonton. Saya sendiri tidak tahu secara pasti apakah Nolan sutradara pertama yang memperlakukan super-hero secara semena-mena,  namun yang pasti ia telah berhasil menyodorkan sebuah potret suram, sebuah gambaran rapuh seorang super hero dalam The Dark Knight dan The Dark Knight Rises. Yang terakhir  adalah  film pamungkas dari Trilogi Batman yang dibesutnya (Batman Begins, The Dark Knight, The Dark Knight Rises) .

Lupakanlah citra super hero yang serba sempurna dan dengan digdaya melibas habis lawan-lawannya. Di tangan Nolan, Batman menjadi sosok super hero yang sangat manusiawi : sedikit egois, didera keraguan, mengalami goncangan batin dan moral. Sebagai penyempurna, Nolan menyodorkan sosok musuh yang luar biasa, sosok musuh yang tidak hanya jahat dan licik namum mampu mendobrak pertahanan psikis sang hero. Seperti sosok Joker, si badut eksentrik yang tidak memiliki motif terang dalam melancarkan seluruh aksi terornya di kota Ghotam,  selain bahwa ia mesti melancarkan seluruh aksi terornya karena keberdaan Batman itu sendiri dan demi kesenangan pribadinya.

Di akhir film “ The Dark Knight” Sang Kesatria Kegelapan nampak melarikan diri dari kejaran polisi, kemudian lenyap. Karna kelicikan Jokerlah Batman kehilangan citranya sebagai hero, terjebak dalam serangkaian intrik dan tragedi yang merengut orang yang ia cintai. “Sudah jatuh tertimpa tangga pula” pribahasa ini sangat cocok menggambarkan nasib naas super hero kita ini. Tidak hanya kehilangan orang tercinta, Batman dituduh membunuh Harvey Dent.
Sang hero berubah menjadi Sang pecundang.

Bangkitnya Sang Kesatria Kegelapan

Setelah semua peristiwa itu, Batman benar-benar menghilang. Gotham  memasuki masa-masa tenang. Semua penjahat ditindak secara tegas sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang dirumuskan Harvey Dent.Sementara Gotham tidak membutuhkan sosok Hero lagi. Delapan tahun yang damai pun berlalu hingga teror mengerikan itu muncul dari gorong-gorong gelap kota Gotham.

Teror itu lahir dari tangan seorang Bane, anggota organisasi bayang-bayang yang dipimpin Ra’s Al-Ghoul, guru sekaligus musuh Batman. Bane bukan sekedar bringas dan licik, ia juga mengetahui identitas Batman, tentu saja, bukankah Bruce Wayne dulunya adalah anggota organisasi baying-bayang. Wayne, juga dianggap pengkhianat oragnanisasi ini, ditangannyalah Ra’s Al-Ghoul menemui ajal.

Setelah teror itu muncul ke permukaan, Batman mengalami dilema batin, apakah ia mesti bangkit kembali membereskan kekacauan, apakah Gotham masih membutuhkannya. Alfred sang pelayan setia sekaligu satu-satunya orang yang benar-benar mengerti Wayne menasehatinya agar ia menempuh jalan lain untuk membereskan permasalahn ini. Terjadi sedikit perdebatan yang berakhir pada kekeras kepalaan Wayne dan kepergian Alfred. Sang Kesatria Kegelapan yang delapan tahun resah di rumah megahnya akhirnya bangkit dengan metal yang tak sepenuhnya kuat, dan penontonpun akhirnya bisa menilai apa yang akan terjadi selanjutnya.

The Dark Knight Rises menyajikan cerita yang cukup menegangkan. Gotham benar-benar  berada di ambang  kehancuran. Sebuah bom berkekuatan ledak dahsyat siap diledakkan. Sementara Batman setelah babak belur dihajar Bane dan dijebloskan ke penjara mengerikan, penjara yang menyimpan sejarah muram Bane sendiri dan beberapa sejarah muram lain yang akan terkuak ketika film nyaris berakhir. Di penjara itu lah teror mental dilancarkan. Wayne hanya bisa terbaring lemah di balik terali besi yang di dindingya sudah dipasangi layar video yang menyajikan aksi-aksi mengerika Bane dan pasukannya : Pengrusakan penjara Gotham, pengrusakan markas senjata Fox sosok dibalik semua kecanggihan senjata Batman. Sementara huru-hara semakin parah melanda Gotham, Wayne hanya bisa terbaring lemah menyaksikan semuanya melalui layar yang sengaja di pasang Bane sebagai teror mental.

Bane memang tidak sememukau Joker, namun bukan berarti teror mental yang sudah diramu Nolan semenjak  awal trilogi ini lenyap begitu saja. Dengan gaya yang berbeda teror itu tetap di pertahankan Nolan. Seperti Seloroh teman saya pada awal tulisan ini, barangkali Nolan tidak aka membiarkan Batman santai dibalik topeng hitamnnya, seolah-olah Nolan ingin berkata “ Ini ku siapkan siksaan yang belum pernah dirasakan oleh superhero-superhero sebelum kamu Batman”.

Sebagai sebuah penutup trilogi, The Dark Knight Rises tidak mengecewakan (meskipun ada beberapa penonton yang meganggap film ini tidak sedahsyat  The Dark Knight). Namun saya ragu apakah film ini benar-benar penutup sepak terjang sang kestria kelelawar, di akhir film ada indikasi bahwa ini bukan akhir dari kisah muram sang super hero. Berakhir atau tidak berakhir, yang pasti Nolan telah menghadirkan tontonan super hero yang tidak biasa, kompleks dan menjebol arus film-film Super Hero yang sudah ada sebelumnya. ()  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar