Jumat, 23 Desember 2011

Barzanji, Ali, Oppenheimer, Dan Puisi



Apa gunanya sebuah puisi di tengah inflasi mata uang, apa guna puisi di tengah kecamuk peperangan dan krisis ekonomi yang gila-gilaan? barangkali tidak ada. Berarti puisi adalah nonsens yang terus menerus di tulis? Mungkin. Tapi ternyata hidup membutuhkan banyak nonsens. Jika tidak kenapa puisi masih di tulis hingga hari ini, padahal tragedi sudah menimpa peradaban manusia entah berapa ribu kali. Dan masih ada segelintir manusia yang bersusah payah menulis hal yang dianggap nonsens ini.

Suatu ketika di tengah kecamuk perang salib Saladin sang panglima perang mengadakan sayembara penulisan riwayat Rasulullah dengan tujuan mengobarkan semangat para mujahidin. Dan keluarlah Ja’far Al- Barzanji sebagai pemenang, kitabnya yang sekarang di kenal sebagai kitab Barzanji yang dibacakan sebagian kaum muslim setiap peringatan maulid nabi bukan sekedar kitab yang meriwatkan kehidupan Rasulullah, Barzanji adalah untaian puisi. Dan pada tahun 1187 Saladin berhasil mendudukuki Yerussalem tanpa sedikitpun pertumpahan darah. Kearifan Saladin tergambar begitu indah dalam Kingdom Of Heaven film garapan Ridley Scot. Ada roh puisi yang juga ikut menggema dalam peristiwa penaklukan yang sarat perdamaian itu.

Pada lain waktu dan lain peristiwa seorang lelaki berkata lirih seperti ini : “Kini aku jadi maut penghancur dunia-dunia” kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah petikan bait dalam Bhagawad Gita. Lelaki itu, J.Robert Oppenheimer orang yang melaksanakan uji coba peledakan trinity, bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima. Bahkah pada sebuah peristiwa mengerikan seseorang membutuhkan sesuatu yang nonsense ini, membutuhkan puisi

Konon Muhammad Ali si petinju legendaris dunia itu, kerap membacakan puisi pendek yang ditulisnya sendiri sebelum menyengat lawan-lawannya. Entah untuk apa ia melakukan hal itu, namuan mungkin Ali adalah sosok yang membutuhkan fantasi dan sedikit kelembutan ditengah hidupnya yang sarat baku hantam. Dan para komentator tinju pun sepakat mendaulat Ali, sebagai petinju yang memiliki keindahan gaya bertarung . “Menyengat seperti lebah, terbang seperti kupu-kupu” begitulah Ali merumuskan gaya bertarungnya. Apakah ada puisi yang berkelabat dalam tiap jotosan Ali? Ah, ini terlalu berlebih-lebihan.

Bisa jadi puisi adalah nonsense tapi barangkali Tuhan memilki rencana yang ganjil dengan hal nonsense ini sehingga seluruh kitab suci ditulis dalam bahasa yang puitis. Firman-firman yang berisi perintah dan larangan itu tidak ditulis dalam gaya kitab perundang-undangan yang konvensional.

Ah, sudahlah, nonsens maupun tidak nonsense puisi tetap ada, bukan untuk merubah dunia, berat sekali beban puisi kalau begitu. Ia ada untuk menggetarkan peristiwa yang kelak tiada, seperti cinta dan rindu misalnya. Seperti seorang tua yang menyebrang jalanan riuh kota Jakarta, seperti daun yang luruh dari ranting pada sebuah tempat yang di landa huru-hara. Seperti Seorang martir yang mengenang keluarganya sebelum nyawa sempurna lepas dari jasadnya.

Saya tutup pembicaraan singkat ini dengan petikan puisi karya Boris Pasternak, penyair dan novelis asal Rusia yang sudah mencicipi kejamnya rezim diktator komunis, penyair yang mengerti apa itu kebebasan dan apa itu kebekuan :

Puisi adalah siul melengking suram
Puisi adalah gemeretak kerucut salju beku
Puisi adalah Air mata dunia di atas bahu

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar