Senin, 27 Juni 2011

Perempuan Asing Berajah Anjing


Rasanya baru beberapa menit lalu aku mencium aroma rambutnya. Rambut yang menguarkan harum bunga-bunga pada musim semi. Kupandangi kembali bangku-bangku di stasiun ini. Hanya ada beberapa orang yang duduk termangu, barangkali mereka sedang menunggu kedatangan kereta terakhir. Kedua jarum jam yang menempel di dinding stasiun nyaris sama-sama berhenti di angka dua belas. Entah, aku belum berniat untuk meninggalkan stasiun ini. Aku belum berniat menghancurkan bayangan tubuhnya yang beberapa jam yang lalu dibawa lari kereta api.

Kunyalakan rokok untuk kesekian kali, sekedar mengusir kebosanan, kuhisap dalam-dalam kemudian kuhembuskan asapnya seperti menghembuskan beban yang menyesaki dada. Barangali kalian akan terkejut kalau kukatakan hal ini. Perempuan yang aku iringi keberangkatannya beberapa jam yang lalu,yang aroma rambutnya hingga saat ini masih menghantui penciumanku, adalah perempuan yang tidak kuketahui asal-usulnya, alamat rumahnya, bahkan namanya.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi pada suatu malam yang menjemukan. Ia, perempuan dengan bibir tipis dan rambut lebat yang harum itu sedang terpekur sendiri di salah satu sudut kedai. Sebelumnya aku mengira ia sedang menunggu seseorang.

Dua jam telah berlalu. Ia masih duduk terpekur ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok , tanpa seorang pun datang menghampirinya. Aku memang memiliki kebiasaan memperhatikan gerak-gerik seseorang secara diam-diam . Kebiasaan yang terkesan tolol, tapi kebiasaan ini cukup bermanfaat bagiku. Kadang ketika memperhatikan gerak-gerik seseorang khayalanku iku campur, menaksir usia dan kehidupan mereka melalui pakaian, cara bicara , dan tingkah polah yang mereka tunjukan .Seringkali orang-orang yang sempat kuperhatiakn gerak-geriknya itu menjadi model tokoh bagi setiap cerita yang kutulis. Dan orang yang kuperhatikan kali ini adalah seorang perempuan yang bisa dikatakan cantik, bahkan kelewat cantik menurutku. Model ideal untuk tokoh ceritaku kelak.

Barangkali nasib memiliki maksud tersendiri dengan pertemuan ini. Tiba-tiba mata kami bertemu. Mataku yang memang sedari tadi meneleusuri wajahnya, dan matanya yang tiba-tiba saja ia alihkan ke mataku. Hanya sekejap. Ia menyunggingkan senyum yang dingin ke arahku.

Astaga, aku tidak akan pernah melupakan mata yang satu ini seumur hidupku. Kalian barangkali akan menganggapku berlebih-lebihan. Aku rasakan matanya seperti sepucuk pistol yang menembakkan peluru kesepian ke arah mataku. Dan seketika di balik dadaku ada perasaan yang aneh yang bergerak begitu perlahan.

Kulirik lagi perempuan itu, ia kini sedang menghembuskan asap rokok begitu tenangnya. Dan mata itu, mata yang seperti sepucuk pistol itu, tampak begitu mangancam perasaanku. Sekali lagi saja mata kami bertemu, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi denganku. Barangkali aku akan mematung seperti seseorang yang baru saja menatap mata medusa, makhluk mengerikan berwujud wanita setengah ular dalam mitologi Yunani itu.

Tidak mungkin aku terus duduk di kedai ini hanya untuk memperhatikan perempuan itu. Gelas kopi di hadapanku sudah sejak tadi tandas. Malam semakin jauh. Dan entah darimana datangnya keberanian itu .Tiba-tiba saja aku beranjak dari tempat dudukku menghampirinya, padahal aku tidak memiliki cukup alasan untuk mendekatinya. Ia hanya menoleh dan lag-lagi menyunggingkan senyum yang dingin.

“ Sedang menunggu seseorang?” Tanyaku berbasa-basi.
“Tidak “ Jawabnya singkat

Kuulurkan tanganku ia membalas, kami berjabatan tangan. Kusebutkan namaku, tapi ia tidak menyebutan namanya. Aku hanya diam, mana mungkin kupaksa dia untuk menyebutkan namanya. Aku bertanya, bolehkah aku menemaninya, ia hanya menganguk. Dan dengan isyarat tangan mempersilahkan aku duduk di kursi, di hadapannya

Beberapa saat aku serba salah. Ia menawarkan rokok. Kuterima tawarannya. Aku berpikir darimana memulai perbincangan. Terlintas dalam pikiranku untuk berkata begini : “Hey, kamu akan kujadikan model dalam cerita yang akan aku tulis”. Tapi tentu saja ini bakal menjedi pembuka perbincangan yang tolol.

***

Dua jam kita saling menyatukan diri, aku lingga kamu yoni, kita bersatu merayakan amsal kesuburan. Ah, di punggungku masih membekas cakar kukumu, di tengkukmu nampak gurat merah yang samar, jejak perjalanan gairahku. Hari lewat tengah malam, aku tidak tahu pukul berapa tepatnya, sekedar mengira-ngira barangkali pukul dua malam, atau lebih.

Aku duduk di tepi ranjang, kamu tertidur dengan posisi menyamping membelakangiku, tubuh pualammu nyaris seluruhnya dibalut selimut, tapi tidak dengan punggungmu. Punggunngmu telanjang. Aku melihat rajah bergambar anjing pada punggungmu.Anjing yang menyeringai. Bagiku ini bukan hal yang biasa, mengapa mesti anjing, bukan kupu-kupu atau mawar. Di kamar yang remang ini aku membayangkan rajah anjing itu melompat dari punggungmu menerkamku dengan liar, “Mangsa aku dalam cakarmu”, teriakku tiba-tiba.

Aku lihat tubuhmu bergerak, kamu terjaga, melirik sekilas ke arahku, barangkali teriakanku yang kencang telah menbangunkanmu. Hey, wajahmu tetap menggairahkan meski rambutmu nampak kusut dan matamu terlihat mengantuk. Dan seperti rajah anjing yang beberapa saat lalu menerkamku, kamu pun mendadak bangkit, menyerangku dengan rangkulan yang erat dan ciuman-ciuman liar. “Mangsa aku dalam cakarmu”, kataku lagi. Kamu tertawa pelan, kemudian membisikan sesuatu, “Kamu minyak aku api, kita saling membakar saling menyalakan”.

***

Asing. Itulah yang cukup mewakili keadaanku saat ini. Bangun dari tidur di sebuah penginapan, dalam keadaan telanjang. Bau birahi masih tercium di tempat tidur yang berantakan, keasingan itu bertambah-tambah saja ketika kudapati di sisiku hanyalah helai-helai rambut serta aroma keringat bercampur parfum yang masih lekat pada seprai.

Setelah membasuh wajah aku hanya terdiam di tepi ranjang. Membayangkan semua yang terjadi tadi malam, bibirku serasa masih menyimpan bibirmu. Pagi ini aku sengaja tidak mandi, aku belum mau membersihkan keringatmu yang baur dengan keringatku, menghapus sisa kecupan dan cakaranmu pada tubuhku.

Kuraih ponsel yang tergeletak di meja kecil samping ranjang, ada satu pesan masuk, pesan darimu, dari wanita dengan rajah anjing dipunggungnya. Ya, kita sempat bertukar nomor ponsel sebelum akhirnya menyatukan diri di sebuah penginapan di pinggiran kota. Saat iu kamu hanya berkata namailah aku apa saja, maka kutulis “si mata pistol” pada daftar nomor telpon ponselku , namun setelah melihat rajah anjing pada punggungmu segera kuganti nama itu menjadi “perempuan berajah anjing”. Biarkan aku menamaimu seperti itu, sebab kamu memang tidak sekalipun menyebutkan nama bukan , bahkan setelah percintaan singkat yang begitu liar kamu berlalu begitu saja dan sama sekali tidak meninggalkan secarik alamat atau nama.

“Temui aku di taman kota pukul empat, sore ini” begitu pesan yang tertera di layar ponselku.

***

Kita hanya duduk berdampingan di bangku taman, menatap langit senja yang kemerahan, sesekali memalingkan pandangan kesekitar. Orang-orang berjalan, orang-orang duduk berkelompok beralaskan tikar, mereka membincangkan sesuatu yang entah apa. Sepasang suami istri menuntun balita yang nampaknya baru bisa berjalan. Si balita di tengah diapit oleh sepasang suami istri itu. Mereka melintas di hadapan kita, menyunggingkan senyum, kita pun membalas senyuman keluarga kecil itu.Aih, sebuah keluarga kecil yang berbahagia.

Lagi-lagi aku bingung darimana memulai perbincangan. beberapa menit yang lalu Aku datang ke taman ini, mendapatimu sedang duduk di bangku, kamu hanya tersenyum dingin, aku langsung duduk di sampingmu, semuanya terjadi tanpa kata-kata, hingga setengah jam berlalu.

“Senja yang lumayan indah” kataku memancing pembicaraan setelah setengah jam yang bisu. Kamu hanya memalingkan wajah ke arahku kemudian menganguk. Aku curiga jangan-jangan kamu diciptakan dengan jatah bicara yang amat terbatas, dan jika batas itu habis, kamu tidak akan bisa berbicara lagi. Sehingga kamu begitu menghemat pembicaraan. Baiklah jika bahasa lisan tidak mempertemukan kita, aku akan menggunakan bahasa tubuh.

Dengan keberanian yang kupaksakan kuraih tanganmu, menggenggamnya erat-erat. Tak disangka kamu balas menggenggam tanganku. Tangan kita yang saling menggenggam menggantikan percakapan, tangan kita seperti sedang menyampaikan bahasa rahasia yang tidak kita mengerti tapi begitu kita hayati. Dan astaga, tanpa terasa ternyata setengah jam tangan kita saling menggenggam. Satu jam yang bisu telah kita lewati di taman ini.

“Hey, kamu pernah membaca cerita tentang seorang lelaki yang menggerat senja dengan pisau swiss, melipat kemudian memasukkannya kedalam amplop lalu senja yang telah terbungkus amplop itu ia kirimkan ke pada pujaan hatinya” ini umpan kedua yang aku lemparkan agar kita terlibat dalam sebuah perbincangan.

“ Belum. Cerita yang menarik meski terkesan terlalu berlebihan. Jujur saja aku tidak terlalu suka membaca” umpan itu cukup berhasil mengail perbincangan. Meski kamu menjawab pertanyaanku tanpa sedikitpun memalingkan wajah. Kemudian kuceritakan padamu cerita ihwal si Sukab lelaki yang nekat menggerat senja demi pujaan hatinya. Sepanjang aku bercerita kulihat kamu tersenyum manis tidak lagi dingin ketika cerita mencapai bagian-bagian yang menarik.

“Jika saja senja benar-benar bisa dikerat dengan sebilah pisau, aku juga akan nekat menggerat senja, tidak seperti Sukab yang memasukkan senja kedalam amplop, aku akan memasukkan senja ke dalam akuarium membungkusnya dengan kertas kado dan langsung menghadiahkannya kepadamu sebagai kenang-kenangan atas pertemuan kita yang benar-benar tidak terduga . Dan setiap kali kamu mengingatku kamu tinggal menyaksikan senja yang mengabadi dalam akuarium itu” begitulah kuakhiri cerita tentang Sukab yang menggerat senja dengan sebilah pisau swiss . Kamu tertawa, aku tidak sedang bermimpi bukan, ya, aku melihat kamu tertawa begitu lepas sambil menepuk-nepuk pundakku, lalu dengan gerakan yang begitu cepat kamu mengecup pipiku. Kecupan yang kelewat lembut, meyerupai sentuhan embun dini hari.

“Trimakasih sudah menghiburku, ternyata kamu juga sama berlebihannya dengan si tolol Sukab itu. Tapi kamu tidak usah repot-repot menggunting senja memasukkannya kedalam akuarium, membayangkannya saja aku tidak sanggup. Oya, aku juga ingin menggunting panorama gerimis di sebuah pantai , menempelkannya pada sebuah kanvas lalu kuhadiahkan itu padamu. Tapi itu perbuatan yang kelewat goblok, maka aku hanya bisa menghadiahkan kenangan kepadamu, kenangan yang semenjak malam kemarin perlahan lahan aku sisipkan dalam ingatanmu. Itu lah satu-satunya hal yang bisa aku berikan”


Senja yang tadi menjadi bagian dari cerita yang aku kisahkan kepadamu perlahan memudar. Taman mulai lengang. Selanjutnya kita bangkit meninggalkan taman. Kamu memintaku untuk mengantarmu ke stasiun. Padahal baru beberapa saat aku benar-benar lancar berbicara kepadamu. Isyarat perpisahan mengambang di udara yang aku hirup, aku menciumnya dengan berat hati, mengambung aroma aneh yang tidak bisa disamakan dengan aroma apapun di dunia.

“ Tapi sebelum berpisah, tolong beritahu siapa namamu, itu pun bila kamu tidak keberatan? ” Wajahmu kembali dingin saat mendengar pertatanyaanku.

“Apakah salah pertemuan yang tidak menyertakan nama? Bagiku pertemuan macam itu lebih mengesankan, kamu bebas menamaiku apa saja, dan satu hal, pertemuan yang tanpa nama ini akan menjadi pengalaman menarik yang akan selalu kamu ingat. Kelak jika kamu sudah berkeluarga, kamu akan bertanya-tanya , bagaimana nasib perempuan cantik tanpa nama yang sekonyong-konyong mengajakmu bercinta, dan kamu ceritakan omong kosong tentang si Sukab yang mengerat senja” untuk ke dua kalinya kamu tertawa, namun yang ini terasa begitu berbeda, ada kebekuan yang menyelinap dalam tawamu. Baiklah, aku tidak mungkin memaksamu.

Dari taman kota ke stasiun hanya berjarak kira-kira dua kilometer, tidak terlalu jauh, kita berjalan kaki. Sepanjang jalan tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut kita.

Di stasiun bau kepergian semakin menyengat, kamu membeli tiket tujuan kota X, dan lagi seperti halnya nama, kamu juga tidak mau memberi tahu alasan kepergianmu menuju kota X, aku sudah paham itu, dan aku tidak akan mengajukan pertanyaan lagi. Hari telah malam. Malam kemarin nasib baru saja mempertemukan kita, dan nasib pulalah yang malam ini memisahkan kita. Sebelum pergi aku ingin menggenggam tanganmu erat-erat. Menatap matamu dalam-dalam, menyempurnakan bentuk kenaangan dalam ingatanku. Barangkali kamu paham kecemasan yang memancar dari sepasang mataku, sebab itu lah kamu balas menatap mataku dalam-dalam, menggenggam tanganku erat-erat. Kita tidak membutuhkan bahasa lagi, jutaan percakapan yang hangat telah menyatu dalam tatapan mata serta genggaman tangan.


Terdengar suara petugas stasiun mengumumkan kedatangan kereta melalui sebuah pengeras suara. Kamu berbenah diri. Kereta telah datang, aku mengantarmu hingga pintu kereta, sebelum kereta benar-benar melarikan tubuhmu dan menyisakan kenangan yang ganjil, segera kupeluk tubuhmu erat-erat,
kita berpelukan kuhirup aroma rambutmu dalam-dalam.


“Kuharap nasib yang licik mempertemukan kita kembali” pelukanku semakin erat
“Jangan pernah berharap, harapan lebih sering menyakitkan” suaramu bukan hanya dingin, lebih dari itu suaramu adalah kebekuan yang terasa sangat ganjil di telingaku

Kemudian segalanya berjalan begitu cepat, kamu masuk ke dalam kereta, kereta melaju kencang. Dan sempurnalah perpisahan kita. Kereta telah lenyap di telan batas pandang. Aku melangkah gontai ke bangku tunggu stasiun. Duduk, lalu menyalakan rokok.

***
Kamu tahu kenapa kusebut malam dimana aku bertemu dengan perempuan berajah anjing itu sebagai malam yang menjemukan. Karena siangharinya aku bertengkar hebat dengan Dina, kekasihku. Alasannya sederhana saja, Dina menuntut keseriusan hubungan yang telah kami jalani selama lima tahun, kamu tentu mengertikan arti dari “menuntut keseriusan”.

Aku tidak menanggapi perkataanya dengan serius ia, muntab, mengata-ngataiku sebagai lelaki abnormal yang suntuk dengan khayalan dan buku-buku. Kawini saja khayalan dan buku-bukumu itu, katanya. Percuma memberi penjelasan kepada singa betina yang sedang dilanda amarah. Kubiarkan ia memuaskan kemarahannya, aku hanya terdiam menunggu segalanya usai. Dan akhirnya ia pergi membanting pintu, meninggalkan kamar kontrakanku. Tapi aku percaya perempuan tetaplah perempuan. Jika kamu berhasil menebar jala di sungai perasaannya, ia tidak akan pergi kemana-mana, yakinlah itu.

Namun bagaimanapun pertengkaran dengan seorang kekasih selalu menimbulkan kekacauan dalam diriku, dan seperti yang sudah-sudah, bagiku kedai kopi adalah tempat yang paling cocok untuk meredakan kekacauan itu, mengurai benag-benang kusut dalam kepala. Dan kebetulan nasib telah menyiapkan permainan ganjil di kedai kopi tersebut. Permainan yang dirancang khusus untukku.

Ponselku berdering saat aku lelap dalam tidur. Eh, saat tidur aku mimpi bertemu dengan perempuan berajah anjing, dalam mimpi ia tidak dingin, tidak juga menghemat pembicaraan, kami bercinta di atas perahu di tengah lautan disaksikan para dewa dan mambang laut . Selebihnya hanya obrolan-obrolan panjang yang terasa begitu hangat dan nyata.

Kamu masih ingatkan kata-kataku tadi ? Jika kamu berhasil menebar jala di sungai perasaan perempuan ia tidak akan pergi kemana-mana, dan inilah buktinya:

Dering ponsel mengembalikan kesadaranku. Aku angkat ponsel, di sebrang terdengar suara perempuan yang begitu kukenal, ia meminta maaf atas sikap kasarnya padaku tempo hari, ia hanya sedang kalap dengan persoalan di tempat kerja dan jengkel dengan pertanyaan berulang-ulang orangtuanya menyangkut hubungan kami. Di akhir percakapan ia memintaku untuk menemuinya di taman kota pukul empat, sore ini. []

2 komentar:

  1. blognya saya follow ya ^^

    BalasHapus
  2. aku juga ikutan follow ya,.. keren sih,.. pengen belajar dari kamu,.. kamu puitis bgt dech,...

    BalasHapus