Jumat, 24 Desember 2010

Requiem Dalam Kamar

kami melarang setiap hal yang bisa berubah menjadi negara
masuk kedalam kamar ini. tempat kami merayakan kesendirian
tanpa khayalankhalayan tentang apa yang terjadi setelah kematian

tenpat kami merasakan senja yang pelanpelan bersijingkat dari langit
dengan menyisakan warna kemerahan yang begitu sakral
melebihi doadoa yang saat ini terasa begitu usang untuk diucapkan

saat hujan memukulmukul tiang listrik, pohon, dan menggelar
perjalanan kecil di selokanselokan, dalam kamar kami sengaja membocorkan
tanggul kesedihan yang berada di kedalaman ruh kami. kesedihan membuncah
kesedihan yang tidak membuntuhkan sebabmusabab. kesedihan yang tidak
mengandung bau maut. kami tidak ingin mendirikan maut dari
bongkahan air mata. semuanya sudah menjadi basi

kami rasa ini melebihi alunan chopin yang menyimpan telapak ajal dalam
tiap ketukannya

:segenap kefanaan mengalirlah dalam nafas dan darahku

Tanah Jogjakarta, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar