Jumat, 24 Desember 2010

Prosesi Melupakan

lagilagi kugelar ritual kremasi dalam ingatanku sendiri
mengabukan beberapa perasaan, perbincangan,angan,
serta pesanpesan pendek yang beberapa saat lalu pernah kita ucapkan

bukan tanpa sebab, tentu kau tahu bahwa takdir yang bergetar samar
memiliki bahasa tersendiri yang lebih banyak tidak kita pahami
benar memang aku masih mencintaimu dengan cinta
yang tidak berwarna merah jambu
dan sesekali merindukanmu di antara malammalam yang kehilangan bunyi
di selasela pergeseran jarum jam yang mematangkan langkah sunyi

akan tetapi mencintai dan merindukanmu adalah semacam laku
seorang masokhis yang menjatuhkan luka pada punggungnya sendiri
dan berkalikali berteriak untuk segenap kesakitan yang disengaja

dan aku, barangkali bukanlah seorang masokhis

lantas beginilah jadinya : dengan mata yang penuh oleh jejakjejak gerimis
serta sayatan senjakala, aku pun menaburkan abu kremasi
pada masa silam yang tidak mengandung listrik
masa silam yang terjahit sempurna dan tanpa suara

dengan bibir yang menyerupai rantingranting pohon di musim kemarau
kembali kunyalakan doa. lalu untuk kesekian kali
kupecahkan tubuhku pada trotoar serta bau asap knalpot.

2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar