Minggu, 11 April 2010

KEMUDIAN KEHILANGAN BEGITU SETIA

begitu saja kami tidak pernah merencanakan kehilangan demi kehilangan
yang membelukar pada sebagian umur kami. seperti saat ini, ketika lampu
lampu jalanan mendirikan malam dan tibatiba kami merasakan doa remuk
para buruh di pembuluh kota. kehilangan menirukan gigir belati yang baru
saja menunaikan ritual pengirisan. kami menutup mulut kami seperti menutup
daun pintu, atau daun jendela saat sore hari berpulang dan langit semerah tomat

adzan isya turun melengkapi bentuk gerimis, jalanan seperti merangkum
isi kepala kami. kapan segala suara segala dengung meranggas dari liang telinga
sehingga kami bisa mendengarkan denyut arwah kami sendiri dengan khidmat.
arwah yang masih bening tidak berwarna cerobong asap, atau reklamureklame
iklan komersil

begitu saja kami tidak pernah merembukkan pertemuan demi pertemuan
mereka hadir secara tibatiba layaknya musibah yang kadang kami kunyah
dengan mata terus melemparkan doadoa penuh lahar.

2010

4 komentar:

  1. lalu biarkan tangan kami barang sejengkal untuk menggapai bulan kemudian kami menelannya dalam bait bait mimpi yang kami tidak mengerti! sehingga kami dapat mengeja kembali kehilangan
    yang begitu saja lenyap dalam ingatan kami.

    lalu kami biarkan isyarat sepi seperti berada di pemakam sunyi!
    karna kami selalu tidak mengerti
    kehilangan yang begitu setia selalu tibanya tergesa-gesa!

    BalasHapus
  2. yang kekal akan datang pada waktunya...

    BalasHapus
  3. hmmmm
    hmmm

    melankolis sekali, sob

    BalasHapus