Senin, 03 Agustus 2009

SETELAH MAGHRIB


SETELAH MAGHRIB

maghrib terpelanting dari kedua belah mataku yang temaram
parasmu belum selesai tercetak. namun runcing bibir maut
terasa begitu dekat hendak memagut helaian nafas
pada setangkai nyawa

lampu yang mematung di bibir malam menyala satu persatu
tokotoko senyap dengan pintu tertutup dan aroma kegelisahan
yang melekat likat di temboknya.

sebaris epitaf menuliskan nama dan sebuah tanggal
secara perlahan di setiap helai rambutku satu persatu


Tanah Serang,2009

4 komentar:

  1. dan setiap senja itu memang baik untuk meminta....
    hanya untuk sepotong hidup demi sebuah cerita....

    two thumbs up kang!

    BalasHapus
  2. citraan magrib yang sungguh saya suakai.. magrib aku rasakan seringkali mistik dan biasu
    sungguh!

    BalasHapus