Senin, 24 Agustus 2009

SEBUAH PASAR YANG BERDENYUT DI URAT MALAM

SEBUAH PASAR YANG BERDENYUT DI URAT MALAM

nasiblah yang menaburkan bayak suara kedalam sekeranjang malam
kita hanya menghampar kemudian menghampar seperti selembar sajadah
ujungnya terjulur hingga ke bibir kuburan. barangkali juga serumpun rumputan
menerus terinjak tanpa sekalipun berteriak.

(kelenjar langit yang mulai jarang menaburkan hujan
sekedar paham debar lirih doa yang kita sulam di parasnya)

kita hanya saling bertukar suara saling menawarkan nama sambil sesekali menerka
di sebelah manakah sebenarnya letak nyawa. sebab setiap jarum jam bergeser
seperti ada yang bergegas pergi pelanpelan menirukan usia yang semakin pucat.

Tanah Tangerang, Juli 2009

2 komentar:

  1. hei rozi,...

    gengnya eko putro dan dea nih (dari segi umur)
    ehhe

    tapi tulisannya udah ngeri

    BalasHapus
  2. like this...
    thumb on your note...

    BalasHapus