Sabtu, 21 Maret 2009

DUA SAJAK YANG MENULISKAN MATA


MATAMU, DAN BAHASA YANG TAK RAMPUNG KUTERJEMAHKAN
:nindya rava

jejak kepulangan burungburung dan merah mega membentuk bahasa
di telaga matamu.pun sampai saat ini tak rampung kuterjemahkan
haruskah kusayat perut menit yang menyamarkan makna-makna itu.
namun pisau dan belati telah sujud dalam kebisuannya. matamu tamat
membaca babbab api yang mengabukan kayu, telah khatam mengkaji
juzjuz karat yang melapukkan besi

:tidurlah tajam, lelaplah tikam

Tanah Serang,2009



MATAKU SELALU INGIN MENIRUKAN RIAK SUNGAI
:n.a, kaukah pelabuhan itu?

mataku selalu ingin menirukan riak sungai bilamana senyap sempurna mengunyah malam
sebab tentu di sana ada samar parasmu yang sangat likat menjalar di nadi dan uraturat lelah pada sekujur badan.

sesekali bibir yang sejak lahir bersemayam di liuk wajahku melafalkan secara gemuruh
patahan menit yang membungkus remahremah pertemuan kita di selembar senja

( lembaran itu kini menguning dan lapuk mulai berpijak)

dan tentang bebulir yang tersungkur dari pojokan mataku, aku yakin kertapnya pun
tak sampai hinggap di dahan sukmamu. untuk sekedar melekatkan geletar

Tanah Serang,2009

2 komentar:

  1. puitis
    meramu kata, mencabik jiwa
    sukses mas

    BalasHapus
  2. ah kau ji. hidup adalah pilihan. jika kamu terus menikmatinya sebagai kekalahan betina akan semena-mena, ayo. lupakan dia ji. cari yang lain.

    BalasHapus