Jumat, 27 Februari 2009

SEKEDAR DUA SAJAK


BIBIR

bibirmu seperti kelana panjang yang harus kutempuh
dan saat malam menyerupai daun-daun kering
jasad yang lapuk diciumi matahari dicumbu runcing jemari hujan
tiba juga
tumpas ditinggal pergi sesuara
aih,kesunyian adalah benang yang menjahit tubuhnya sendiri
menjadi selimut

sebilah kecup ragu merampungkan bentuknya dalam laku

bibirmu sekeras terumbu

Tanah Serang
20 Februari 2009





SEPATU

amis perjalanan yang membatu dalam badanmu akhirnya ruap juga
debu-debu dari kota yang mencatat namanya sendiri di selembar kenang
pergi mencari kafan dan sebidang tanah merah untuk istirah selama

panas aspal tinggallah airmata yang mengering

tentang bab-bab persinggahan,seluruh mengerak di belangga waktu

rumah,istri
melulu menggal debar pengembaraan
menikamnya sampai darah menyerupai laut merah

Tanah Serang
2009

8 komentar:

  1. pertmakas.... dolo...
    asik....

    bang boleh ku bungkus ku bawa pulang,,??
    buat hiasan dinding,coz sedep banget...

    BalasHapus
  2. asyik kata. . .

    visit my blog. . .

    www.fariziskan.blogspot.com

    BalasHapus
  3. keren yaaa....km berbakat banget...
    sukses yaa...^^

    BalasHapus
  4. Dlm puisi tentu diksi memegang peranan penting disamping majas lainnya. Oleh karena itu kit harus betul-betul menggunakan diksi untuk pengungkapan puisi itu. Seperti sajak " Bibir ". Anak abak perlu memperhitungkan diksi apa yang tepat dlm puisi bibir. Seperti "kelana","daun-daun kering","jasad","dicumbu","benang","sebilah","terumbu" dll.
    Nah, kelana mengapa tidak jalan ?
    mengapa mengapa ada jasad ? tidak ditinggalkan saja ? kenapa dicumbu tidak dipermainkan ? mengapa ada benang ? Sebab menjahit jelas logikanya ada benang. Untuk adanya imajinasi hematnya tak perlu benang.Larik "tiba juga" seakan seakan memisahkan tautan larik2 pada larik pertama itu.Kemudian pada larik 2 mengapa "sebilah kecup" tidak "ada beberapa kecupan/berkali-kali " Pada larik 1 Bibir itu lapuk mengapa sekeras terumbu, ini kontradiksi yang melemahkan arti bibir itu sendiri. Nah ini hanya sebagai renungan saja. Walau semisal diksi yang unik namun mudah dicerna dan dipahami maksudnya.Maju terus dan tingkatkan diksinya.

    BalasHapus
  5. Sajak bibir bagus...tapi tidak sejalan dengan bibir itu sendiri.. apalagi ada photo... harusnya.. romantis ...kenapa jadi penuh duka ya...

    Aku ga mahir ..tapi itu yang aku pikirkan

    BalasHapus
  6. bibir yang merah kuharap bibirku dapat berucap satu kata cinta

    BalasHapus
  7. Sastranya mantap banget....
    Salam Kenal ya..??

    BalasHapus
  8. terus menulis kata hati friend, salut

    BalasHapus