Selasa, 10 Februari 2009

SEKEDAR SAJAK...

LAMPU MERAH

seperti sehalaman kehidupan yang leleh di dinding mataku
orang-orang itu bertempiaran diantara sayatan angka-angka
yang dimuntahkan rahim jam di telapak langit
dan aspal kelabu adalah keranjang kusam tempat menina bobokan
mimpi-mimpi sehangus arang
kemudian sejenak diam dan sejumput saja harapan menjadi mekaran mawar
yang kelopaknya di lumuri debu

mungkin sampai waktu tercerabut dari akarnya orang-orang itu selalu menunggu

Bumi Mutiara Serang
Februari 2009



DI TUBUHMU BAU RUMAH

selalu saja bau sebuah rumah menjadi burung yang terbang dari tubuhmu
hinggap di hidungku.kemudian penunjuk jalan pulang tumbuh selebat cendawan
di musim hujan.namun tubuhku perahu yang menyalib karam dan menetak tepi
pelabuhan. enggan mengenalkan kaki pada secarik alamat.bagiku alamat
serupa terali-terali besi merontokkan bau perjalanan dari tangkainya bercabang
maka alamat roboh bersimbah darah di ujung runcing pisau kelana alif lam mimku

Tanah Serang
Februari 2009

1 komentar:

  1. sajak lampu merah mu membuatku kagum. begitu penuh kejutan dan akhiran yang tak terduga.
    btw, sering seringlah main ke "rumah ku", aku akan dengan senang hati menyambutmu.

    BalasHapus