Selasa, 03 Februari 2009

HANYA TIGA SAJAK

DAN LANGIT PUCAT

sehingga kapal-kapal karam
sampai api-api padam

dan langit pucat
sepucat rohku yang likat oleh

bayang tubuhmu
berpijar
membekas panas tak terbaca

Tanah Serang
2 Februari 2009


SENJA TUA SEUSAI HUJAN

yang kubenamkan di hamparan kata-kata
merupakan senja tua
serupa kakek mengingat waktu hangus
dan usia terbakar

sebelumya hujan seperti kecup tak sampai
mengendapkan rindu maha kobar

rumputan serta daunan tengadah dalam kuyup
mengingatkan jiwaku basah

mereka nari
mereka nyanyi

sedang seluas pandang
suram turun perlahan

mirip garis wajah dan bau tubuhmu sayang

Tanah Serang
2 Februari 2009




MAUT MENGINTAIMU DI HARI ULANG TAHUN

selamat ulang tahun

di sarang teramat samarnya
maut maju beberapa langkah
menujumu
menujumu

“seberapakah jarak maut itu?”
tanyamu usai mengantarkan tari kecil api
di ujung lilin menuju kematian
dan asap yang mengepul tipis
layaknya iringan para pentakziah

teramat dekat
sedekat lautan dan ombak
dan seperti pemburu ia mengintaimu
semenjak kau menjadi hujan yang sebermulanya gerimis
semenjak kau menjadi buah yang sebermulanya kembang berkelopak tipis

seperti para pengelana
meninggalkan tanda-tanda pada tanah
yang baru saja di jamahnya
begitulah maut
telapaknya menyisa di kalender yang menua
di jam yang tik-toknya semakin mirip letusan batuk
seorang kakek pada pertengahan malam
menyobek halaman mimpinya tentang masa muda
yang tinggal dongeng saja

Tanah Serang
2008-2009

1 komentar: