Senin, 05 Januari 2009

TERUNTUK NIDA AMALIA


NINDYA

malam-malamku seperti seorang syahrazad
yang terus becerita tentang kamaruzaman tentang aladin
tentang sinbad
sambil sesekali menahan debar, apakah syahrayar tertarik
dengan cerita yang dibawakannya?

nindya ,mengenangmu adalah menggoreskan mata pisau
pada memar sebutir apel
merenungi makna ranggas dedaun
juga hidup yang berujung dalam barisan epitaf

nindya, merindukanmu adalah melayarkan bahtera
yang karam di tengah lautan
lalu pelabuhan semisal seorang
yang menunggu kekosongan

nindya, mencintaimu adalah menyimpan
luka dalam sebuah lemari yang kunamakan kesenyapan
erangnya lebih lembut dari sekedar kapas
lebih sunyi dari derap kaki peri

nindya, mengenang merindukan dan mencintaimu
adalah kehidupan itu sendiri
tak pernah kuminta
dan tak bisa kuhindari

Tanah Tangerang
30 Desember 2008



NINDYA II

sepertinya kau kini selembut angin
dan mimpiku bukan tembok beton yang kukuh
namun hanya rumah bambu
bukankah angin bisa lesat
dari celah bambu yang seperti rongga jantungku
begitu galau, teramat risau

menerka aku
kau mungkin segenggam
nafas yang bertiup
dari balik paru eva
lantaran kubaca artefak semerah darah
yang denyar di palung sukmamu
tentang pencarian serpihan tulang rusuk
yang lerai oleh takdir tuhan

“padahal aku bukan anjing, kenapa harus mengendus
bau tulang”

di dasar mimpi yang seperti rumah bambu itu
kau menari
kukira kau akan menarikan hasrat rumi
semisal rotasi
ternyata malah menarikan badai
juga garis-garis hujan di aorta majnun
maka erang setajam mata elang
memahat sebaris warna-warna kelabu
yang menjadi danau
dimana hallaj dan jenar
sempat membasuh wajahnya

Tanah Serang
1-5 Januari 2009



NINDYA III

kelenjar air mataku
adalah sisa nafas seorang salik
yang terus mengucap nama tuhan
meski lelah walau terengah
dan tangis yang tak sempurna ini
diundang oleh garis-garis sewarna dengan
cintaku begitu ungu
ia terselip dalam sebuah kelokan kisah
jean marais dengan perempuannya yang aceh tepian pantai itu

denyut kelenjar air mataku
mungkin tak sampai di pintumu
bahkan seribu sajak tentang duri
yang tanpa sengaja kau tancapkan
sampai kini tetap berkawan dengan kelengangan
sepertinya telingamu himalaya
dan sesuara rintihku adalah pendaki yang kehabisan perbekalan

kelenjar air mataku semisal
seorang penyair
di ujung runcing mata pisau
terus menuliskan syair-syair
soal bahasa yang tak pernah dipahami
di kedalaman nisan
dan pesan rahasia yang lelap
di rimbun lumut pada sebuah epitaf


Tanah Serang
5 Januari 2009

5 komentar:

  1. Dan begitulah sajak tertambat dalam hati.
    Bisakah ia merapal mimpimimpi yang hadir di mata?
    Berlayar ke malammalam abadi 1001 hari
    atau memang hendak angin dirayakan?

    BalasHapus
  2. teman...

    kau dengarkan lagu ini aja...


    mimpi yang sempurna peterpan

    kau mulai goyah...jangan kalah...

    betina seharusnya jatuh rebah dalam dekap kita

    ayo perjuangkan

    hahahahahahah

    BalasHapus
  3. Ho ho ho Rozi anak abah yg berbakat. Puisi Nida Amalia ini sudah menunjukkan keberhasilan sebuah puisi. Kamu terluka ya ha ha ha. Biarkan kau terus terluka. Biarkan sampai menganga. Sebab dari nganga itu kau gali terus kepingan2 ilham dan darah yang mengalir membasahi jiwamu adalah dawat untuk menciptakan diksi,ungkapan dan metaformu.Yeaaah terus nulis nulis tiada hari tanpa nulis. Sukses.

    BalasHapus
  4. jadi pengen nagis bahagia bacanya, emang kisah cinta begitu rupa warnanya, salut saya terus berkarya mas mumpung masih muda, keberhasilan seseorang bukan kata orang tua tapi kemauan dan tanggung jawab kita dalam membawanya. teerus berkarya simpan dan abadikan untuk kita.

    aku aja jarang bisa nulis dengan pilihan kata yang tinggi, pokoke saluuut.

    BalasHapus
  5. KATA CINTA:

    seperti angin aku begitu ingin,tapi selalu kalah dengan arah.
    seperti air aku terus lahir,
    tapi tak pernah jadi sejarah..

    -Gusmel

    BalasHapus