Selasa, 27 Januari 2009

SAJAK-SAJAK YANG DINGIN,SAJAK-SAJAK YANG KUYUP...

GERIMIS TURUN DI LANGIT MALAM JAKARTA

lengkung langit Jakarta
seperti bilik mataku
menyimpan senyap dan kelam malam

malam yang kau bumbui dengan
impian tajam gigir pisau

gerimis perlahan rebahan
di tanah yang bising oleh gilasan
anak-anak waktu
serupa tikar koyak
tilam bagi kaum yang duduk nanar
di tepian setiap zaman

dan para gelandangan
orang yang menjadikan rumah
sebagai asap tak tergenggam tangan
mengelar kembang peraduannya
di pelataran toko yang sudah tutup
padahal dingin begitu nikam

garis-garis malam adalaha tirai gaib
dimana rupa-rupa aroma kelebatan begitu saja
lalu hidung ini bisa juga
mengendus kembang peraduan mereka
bukan mawar apalagi melati
tapi bangkai

ya, bunga bangkai

Tanah Jakarta
15 Januari 2009



DENGAN APA AKU ZIARAH
:n.a

nindya, dengan apa aku ziarah padamu

dengan tubuh yang lepuh dan sukma tinggal
arang terbakar kobar api di punggung malam
semburat fajar di ufuk menyisa residu resah
dan pagi
tiba-tiba aku begitu takut menghadapi pagi
seperti seekor kelelawar mungkin

nindya,dengan apa aku ziarah padamu

dengan sisa gerimis di pelupuk mata
susah payah aku menyimpannya
ini gerimis milik mereka
orang-orang terluka
serupa hikayat adam-hawa
semisal kisah majnun-laila

nindya,dengan apa aku ziarah padamu

dengan sekerat kematian
yang samadi di jantung sukma

Tanah Serang
27 Januari 2009



USAI MEMBACA HUJAN RINTIH-RINTIH*

tubuh kuyup juga
oleh gerimis yang berjatuhan
dari langit sajakmu. basah yang bersarang
mengingatkanku pada geliat lumut serta cendawan
barangkali mereka semacam rangkuman atas kenangan yang tersimpan
dan tak terucap oleh bibir liris hujan. seperti juga cintaku yang belum berlabuh

di dermaga batin seorang puan dari negri para sulthan. nindya namannya.bagiku
ialah celah cahaya di lautan gulita mengajarkan kembali mata buta
bagaimana caranya melihat dan membedakan antara hitam
dan putih. ia juga selimut bagi tubuh gigil di selongsong
malam, atau unggun sang karib para pengelana
hujan dari langit sajakmu sudah reda
namun sesobek resahnya menyisa
di tubir ceruk sukma

Tanah Serang
27 Juni 2009

2 komentar:

  1. zi, kau harus berani mengeluarkan ruh chairil dalam tubuh sajak2mu, aku masih merasakan aroma itu. tapi aku tahu, sudah banyk perubahan, kau mulai berani...sukses...


    salam buat nindya.

    BalasHapus
  2. Yeah puisimu sudah oke banget, sayang. Tapi ada satu lirik penutup yang perlu direnungkan atau dipertimbangkan yaitu pada Hujan Turun di Langit Malam Jakarta. Anak abah menulis : /Ya, bunga bangkai/ Maksudnya abah mengerti, tapi ada penafsiran lain. Bahwa Bunga Bangkai sebenarnya bunga yang dilindungi,dipelihara, bunga yang langka di dunia, ada di Taman Bunga Bogor. Saran abah bagaimana kalau diganti misalnya,/ya, bacin bangkai/

    BalasHapus