Senin, 19 Januari 2009


EMBUN DI UJUNG DAUN
: n.amalia

embun menyisa di ujung daun
mirip kecup yang enggan lepas
namun takdir itu tangan para sipir penjara
yang memaksanya ruap lekas
rebahan di muka tanah
tapi ditanah rindu belum selesai
cinta tak-tamat
sebab hasratnya masih sepanjang usia nuh
yang menyeru dan umatnya begitu tak hirau
dalam benaknya ia tarik garis-garis wajah rumput
sedang senyum kegetiran adalah himne yang tak
perlu diperbincangkan
di simpannya garis-garis itu dalam ceruk jiwanya
yang paling darah
yang paling resah
di peliharanya garis-garis itu dalam ceruk jiwanya
yang paling bara merah
yang paling darah rekah

: nindya kau rumputan
dan kembara sisa embun yang
nikmati nestapa maha

Tanah Serang
8 januari 2009



TENTANG SEBUAH PULAU

orang-orang berkata
di pulau itu harapan lama ruap
burung-burung tak membangun sarang lagi
dan pepohon beserta daunan beserta tangkaian
serupa manusia tua menunggu ajalnya

tapi harapan bukan kematian yang tak bisa di tolak
juga bukan matahari yang selalu terbit dan tenggelam
harapan itu isyarat turun hujan
mimpi yang tak pernah kau ramalkan

orang-orang berkata
di pulau itu harapan lama ruap
karenanya mereka enggan mengayuh sampan
menujunya
memijakkan kaki
meninggalkan jejak di tanahnya

dan aku dengan segenggam benih asa
yang kupungut dari kanak
yang menampung rinyai gerimis dan segaris bianglala langit
di celah senyumnya
menjejaki pulau itu
kepada pepohon kubisikkan sabda sulaiman
yang merundukan burung-burung
kepada biru langit kutitipkan jejak pencarian
simurgh

Tanah Serang
13 Januari 2009



KEMUDIAN SESAT

empat arah mata angin detik ini
bak daun yang menguning lalu kering
ranggas adalah pilihan akhir
ujung jarum kompas kehilangan mata
jadi buta
merayapi malam kelam
dan seorang nakhoda
beserta bahteranya
yang belum juga lelah nelusuri seluk laut
mengumam apa yang pernah di gumam
musa di bibir lau merah

Tanah Serang
12 Januari 2008

1 komentar: