Senin, 12 Januari 2009

EMPAT POTONG SAJAK


DAN TANAH DAN TELAPAK KAKI
:tanah kanekes

dan tanah beserta beceknya
seusai hujan
beserta retak dan gersangnya
seusai kemarau

dan telapak kaki
beserta letihnya langkah
seusai kelana
beserta rintihnya jalan
seusai kembara

dan tanah
dan telapak kaki
pada perjalanan
di pagi kelebatan pagi
ceceran kisah lama yang kembali netes
dari dinding-dinding langit
layaknya hujan yang beberapa bulan lagi
akan samadi di jantung musim
kisah tentang girang kepalang adam
menemu eva di lepitan masa
setelah hari-hari berlepasan
menjadikannya pisah

Tanah Serang
6 Januari 2009


DEBAR PADA SUATU JALAN
:n.a

setiap singgah pada jalan ini
bayang wajahmu berkelebat
mencipta denyar kilat di langit mendung sukmaku
lalu mimpi-mimpi yang bahtera karam itu
bergentayangan lagi
mendesaukan sesuara tepukan sebelah tangan
kemudian nganga luka yang sementara ini sudah kukafani
dan kubenamkan di tanah merah
lengkap dengan nisan dan sebaris epitaf
bangkit lagi menjadi mayat hidup
merangkak ke arahku
mendesiskan rindu langit pada bumi
sedang kemarau bertahta

:kau tahu hujan adalah risalah rindu
langit pada bumi

setiap singgah pada jalan ini
ingin kumenjadi es yang panas melelehkannya
menjadi api yang air memadamkannya
menjadi kayu yang bakar mengabukannya
menjadi usia yang waktu meranggaskannya

Tanah Serang
9 Januari 2009



RESIDU

semisal kopi yang meyisa
dedak pada dasar gelas
begitulah pertemuan suatu senja
meninggalkan letup yang tak lenyap lekas

letup itu mengakar ke dasar tanah jiwa
lalu pelan tangan waktu menjadikannya batu, keras
pernah kau bawa kapak kau kepal gada
usaha menetaknya supaya ranggas

namun bukanlah ia daunan ranggas begitu saja
ia bahkan karang tegar menahan ombak deras
ah, letup yang ingin kumembenamnya
begitu resah ceruk batin di buatnya lantas

kebingungan serupa burung yang lupa
jejak pulang saat menepi senja

Tanah Serang
12-13 Januari 2008



TENTANG HUJAN

:n.a

tentang hujan yang seperti
lesatan anak panah
pada peperangan abimanyu
aku hanya ingin mengatakan
bahwa ada rindu teramat kelu
bahwa cintaku tiupan sendalu

Tanah Serang
8 Januari 2009

3 komentar:

  1. puisi "debar pada suatu jalan" kya nya misteri banget yah. Ya?!terus jaga tulisanmu yah....

    BalasHapus
  2. mang kalau mencintai cinta, semuanya terlihat indah.

    BalasHapus
  3. ...
    bayang wajahmu berkelebat
    mencipta denyar kilat di langit mendung sukmaku

    ...

    So damned sweet!!!. Cuma sedikit orang yang bisa melukis keadaan jiwa, baik melalui media kata atau warna. Belakangan ini, mouse saya yang ceroboh telah membawa saya ke situs orang-orang yang sedikit ini. Seandainya bakat kalian itu virus, saya ingin tertular sampai mampus hehehe...

    Salam kenal!

    BalasHapus