Rabu, 31 Desember 2008

SAJAK-SAJAK AWAL TAHUN


HUJAN DI SUBUH

jejarum jadi semacam ucapan
selamat datang menyambut kedatangan
para tamu
atau kumandang adzan yang seliris gerimis
merayap begitu pelan di merah telinga bayi
“dan kebisingan semisal colombus
yang menemukan benua amerika”

bilal
suaramuepetak sarang burung-burung
yang berkelana mencari simurgh entah dimana

berkejaran
dengan kaki-kaki hujan
sebenarnya itu rintiha rabiah perawan tuhan
di simpan ruas-ruas sungai dipelihara luas lautan

Tanah Serang
23 Desember 2008



FRAGMEN AKHIR SEEKOR KUMBANG

kau gagal mengisap madu dari
setangkai bunga yang di jaga oleh bala tentara
waktu
sayapmu pun koyak
sebilah belati telah menikamnya
tersungkurlah tubuhmu itu
diantara kerikil yang memahami hidup
sebagai sebuah keterinjakan
juga keras dan mematung
wajahmu mendongak kelangit
yang akhir-akhir ini
selalu menerjemahkan kerinduan
dalam bahasa hujan
sesaat lara memijakkan kakinya
di gemetar sayapmu yang kehilangan terbang
“ah, kerinduanku hanyalah isapan dan isapan”
kemudian dari celah hari bergerombolan anak seperti
laron-laron yang keluar dari tubuh-tubuh tanah lembab
sebab hujan baru saja mencumbuinya
merubungi cahaya-cahaya lampu pada barisan malam beku
dan dari kaki-kaki mungil mereka kau lihat izrail memicingkan matanya
lalu tersenyum ke arahmu
“tinggalah aku mengabadikan nama dalam barisan epitaf senja”

Tanah Serang
27 Desember 2008



BAHASA LUKA
: palestina

Dari sini darahku memeram erangan
Selusin luka yang deras
Dikirimkan angin-angin lalu lesap
Pada nadiku
Mendeburkan lautan doa yang diam
Sebab tak ada lagi persinggahan bagi sorai
Sebab sorai adalah slogan-slogan busuk
Yang bercopotan saat pemilu
Dan baunya seperti pahatan relief
Di tembok candi-candi
Begitu abadi
Air mata tak perlu berbicara
Dengan tetesan
Biarkan ia berbicara dengan puisiku saja

Ledakkan bom
Lelehan duka
Letupan murka
Yang terhidang di layar kaca
Membangun kuil lara di kedalaman dada
Tiang dan temboknya genangan air mata

Dari kuil ini
Munajat isa
Munajat sidarta
Munajat musthafa
Munajat Theresa
Di tetaskan
setiap lesat detik pada jam

Tanah Tangerang
29 Desember 2008

2 komentar:

  1. Wah wah puisimu ini Rozi bagus sekali. Abah senang kamu telah semakin mematangkan karyamu. Memang kematangan itu dilakukan dengan kesungguhan, pertimbangan baik diksi,simbol,ungkapan maupun metafornya. Jadi anak abah terus nulis dan menulis.Perlu diingat, bahwa karya kita itu untuk pembaca. Oleh karena itu kita berupaya simbol ungkapan metafornya mudah dipahami tetapi tidak mengurangi nilai kualitasnya.Abah tidak menyanjung, Rozi kelak menjadi sastrawan yang diperhitungkan. Maju terus. Salam abah.

    BalasHapus