Senin, 22 Desember 2008

NYERI


NYERI

Lalu perih malam kuterjemahkan ulang
Menjadi harapan-harapan ombak yang disampaikan melalui
Julur lengan angin

Ikan-ikan yang belum habis mengunyah perjalanan
Dalam sungai darahku mulai menyusun munajat-munajatnya
Pada ruang yang tak kita ketahui
Munajat itu senyeri duri
Menusuk telapak
Saat kau sengaja tak beralas kaki

“biar telapak kembali mengenal moyangnya, tanah dan runcing bebatu”

24 Desember 2008

4 komentar:

  1. puisi yang bagus... salam kenal kang. org tasik? saya dari garut. tetanggaan kita rupanya :)

    BalasHapus
  2. “biar telapak kembali mengenal moyangnya, tanah dan runcing bebatu”

    Hmmm... Touching banget...

    BalasHapus
  3. semoga...aku melihat isi puisimu...

    BalasHapus
  4. i like this blog

    http://kayadansehat.blogspot.com/2008/12/download-mp3-gratis-lagu-baru.html

    BalasHapus