Sabtu, 29 November 2008

SAJAK-SAJAK PADA MUSIM PENGHUJAN


FRAGMEN HUJAN SUATU PAGI

Pagi baru saja menetas
Ketika gerimis memahami makna siklus
Lalu menjadi hujan yang tidak terlalu deras

Sejak malam sajak-sajakku di alastu
Terus menggedor pintu
Ingin segera bergelinjangan
Di helaian kertas
Ingin segera di lahirkan

Tapi hujan ini resap
Kedalam rahim
Menghanyutkan sajak-sajak yang belum sempat
Terlahir

Kini hujan tinggal kenangan
Aku menelisik kembali sajak-sajak
Hanyut
Mungkin tersangkut di reranting pohon
Yang masih kuyup
Atau tetanah becek yang akan
Kembali merelakan tubuhnya
Di geranyagi panas matahari

Tanah Para Sulthan
November 2008



MATI ITU TERTANAM

Mati itu tertanam
Di ujung runcing jarum-jarum jam
Juga kalender yang mematung di dinding kamar
Tanggal-tangganya berguguran seperti
Daun meranggas pada suatu musim

Dan pesisir telingamu
Lebat
Ditumbuhi lalang tanpa seorangpun
berhasrat memangkasnya
Bukan saja lalang
Pelan-pelan
Gemuruh mesin pabrik
Deru kendaraan di jalan-jalan
Menumbuhkan tembok-tembok beton

Maka mati
Di ujung runcing jarum-jarum jam
Di kalender-kalender yang tanggalnya berguguran
Seperti teriakan si bisu
Pada si tuli

Tanaha Para Sulthan
28 November 2008



LALU KAU BERTANYA SEDANG MALAM TUA

Ia baru saja menadah tetesan mimpi
Ketika seorang betina mengetuknya
Melalui seongok ponsel
Ah,belum penuh tetesan itu
Sudah tumpah ruah
Di lelantai batin basah

“benar kau telah melabuhkan bahteramu?”
Tanya betina
Malam masih sewarna dengan secangkir kopi
Yang di seruput saat pagi menepi

“kau tak perlu tahu kapan dan dimana bahtera itu
Berlabuh”
Jawabnya seperti kobaran api kecil
Yang mengabukan reranting

Ia tak lagi menadah tetesan mimpi
Usai seorang betina mengetuknya
Melalui seongok ponsel

23 November 2008
Pada Tengah Malam

2 komentar: