Minggu, 23 November 2008

ATOVIAH


ATOVIAH

I
Kita dipertemukan oleh beban
Aku memandangmu sebagai bidadari
Selintas saja
Tanpa ingin mencari celah lautmu
Apalagi menyelaminya
“bagaimana aku bisa selalu menyambangimu penyair, sekedar
Menelusuri beban yang kita pikul ini, bersama”
Tanyamu dan waktu belum menanamkam bom dalam dadaku
Seperti samudera mungkin
Menjadikan bali tanah yang membara
“ini kode-kode perbincangan langit, kau selalu bisa menyambangiku
Ya, akan kita cercapi bersama beban ini”
Jawabku bom itu belum juga tertanam
Ia sedang merangkai tubuhnya di alastu sana

II
Tubuh sedang memahami asalnya
ketika kau hari itu
Membuka perbincangan langit denganku
Sawah dan kali baru saja kutanam dalam gudang sajak
Lain waktu akan kurangkai ia menjadi puisi
“apa kabar penyairku, kita tidak akan membincangkan beban lagi”
Suaramu berbeda
Ada jeruji besi yang terikim melaluis suara itu
Bahkan bom waktu
Arghargharghargh…
Namun aku tak bisa menolakmu
Maka kurelakan jeruji dan bom waktu
Masuk melalui pintu depan jiwaku
Yang warnanya pudar
“lalu apa yang kita perbincangkan,betinaku”
komputer masih berpendar
kopi sedang memahami makna kematian
“cinta, bagaimana?”

III
Pada halaman lain kulihat kau
Begitu beku
Seperti tak ada perbincangan yang membekas
Di bening tubuhmu
Sepertinya cukup langit saja yang mendengar
Perbincangan kita
Bahkan iblispun tidak
IV
“bagaimana penyair kabarmu?”
Lagi suaramu menerobos masuk
“ah, kau tahu bom waktu itu beberapa menit lagi meledak
Dan jeruji besi yang terkirim melalui suaramu telah menjadi
Penjara kecil dalam tubuhku”

V
Betinaku bom waktu sudah meledak
Kau tau apa yang menyisa dalam ledakan itu?
Namamu,namamu,namamu yang bersimbah darah
Tapi darah ini tidak anyir
Ia seharum mawar yang baru saja mekar
Sedang pagi menghadiahkan sisa embun pada kelopaknya

VI
Suatu senja
Aku sudah lupa pada bom yang lalu
Meledak
Juga penjara itu
Ia telah menjadi darah
Menjadi dagingku
Betina
Kita mengeja jalanan
Sebenarnya angin sedang merangkai
Kisah tentang kau dan aku
Tentang kita

VII
Sepertinya kita tak berjarak lagi
Seperti angin dengan tiup
Kapan terberai?
Kelak saat namaku menjadi epitaf

Tanah Para Sultahan
16 November 2008

3 komentar:

  1. makasih Tuhan kau pertemukan aku dengan manusia yang mampu menulis ini....salut mas..terus berkarya...salut

    BalasHapus
  2. bagusssss
    ajariiiin qq ^^

    eh salam kenal ya
    trus menulis :P

    BalasHapus