Kamis, 16 Oktober 2008

SAJAK-SAJAK DI TUBUH OKTOBER



DALAM MATAMU BAYANGBAYANG PELABUHAN ITU
: lilis

Saat sawah menghijau dalam jantung
Dan sungai mengalir direlung batin
Aku menyusun skestsa wajahmu pada
Lembaran sajak
Kemudian perbincangan antara kitapun tergelar begitu saja
Di halaman-halaman langit
Kau mengeja hidupmu perlahan
Begitupun aku yang mengurai lembaran kisah usang

Tapi sayang
Kisahku menggeliat dalam sesajak
Entah kapan waktu membacakannya
Mungkin saat tubuh ini benar benar memahami
Perbincangan tanah juga kenisbian
Secara langit
Secara bumi

Sayang
Bahtra ini belum juga menemu pelabuhan
Semenjak awal pelayarannya
Sedang sang nakhoda mulai jemu
Berkawan dengan samudra
Habis sudah cerita tentang birunya
Ataupun kedalaman yang tak terukur semisal
Kitab nasib

sayang
aku melihat bayang-bayang pelabuhan itu
di bola matamu yang selalu menyanyikan lelagu senja
ataupun gerimis pada taman disebuah sesak kota

TANAH KELAHIRAN
7 Oktober 2008



PADA PERKUMPULAN DI TEPI MALAM

Cahaya neon yang lalu lalang di bola matamu
Sedang mengundang malaikat
Dan kidung-kidung seribu bulan seperti
Dengung lebah di suatu pohon pada bukit yang lama terlupa

sementara sajak- sajak yang di bacakan
menampar kebisuan malam
Juga lagu-lagu itu
” tapi ini kulit bukan daging”
Begitu kata potongan mulut yang rebahan di
Dipan batin

Sampai lelah malam
Masih juga lelagu dan sesajak
Deru tak beranjak
Namun, masih tetap kulit
Mungkin daging sudah habis di gerogoti
Orang gila yang loncat-loncat di sela rambut mereka

Lalu seseorang yang katanya
Menyimpan sang burung di urat nadinya
Membacakan sesuatu yang ia sebut sajak
Namun lagi, itu hanya kata-kata yang baru saja
Dipungutnya dari tong-tong sampah di pinggiran jalan
Dan aku pun melihat orang gila yang nyeringai di sela rambutnya

O,sepotong mulut yang rebahan di dipan batin
Semakin sorai ia
”tapi ini kulit, bukan daging”
Sedang malaikat yang diundang cahaya neon itu bergelimpangan
Diantara gelas-gelas yang menyisakan dedak kopi di dasarnya
Juga kulit yang kehilangan kacangnya

Ah, dengungan kidung seribu bulan itu terbakar



Serang,25 September 2008

1 komentar:

  1. Penyair amatir klo dibiasakan jadi penyair profesional. Loh kok bisa?

    Bisa aja asal rajin bikin syair lalu dipasang di blog. Nah pasti ada yang baca.....Nah klo kebetulan ada keterunan Khalil Gibran yang membaca. Pasti tertarik ama karya sastra kamu

    heeeeee, sukses ya!

    BalasHapus