Sabtu, 06 September 2008

SAJAK-SAJAK DI HALAMAN RAMADHAN


SEEKOR SETAN YANG MEMBACA SAJAK

Sajak terbuka seekor setan membacanya
Menebak-nebak guratan nasib pada baitnya
Mungkinkah ada malam yang di sembunyikan
Atau petunjuk menuju samudra semisal jalan

Sajak itu di robeknya
Seperti ada api yang membakar
Seperti ada perih yang menampar

Sajak terbuka dan setanpun tertawa
Ia membaca namanya yang menyaru tuhan
Kemudian sajak itu di katakannya sebuah sabda sebuah firman
Hingga puluhan kambing yang lupa arah menuju kandang
Menganguk-anguk saja mendengarnya
Lalu mengembik tak tahu apa yang harus di kata

Sajak itu sajak neraka
Di tulis dari didihan jahanam
Lalu menyebar melalui imaji-imaji hitam
Penyair yang lupa
Penyair yang mabuk

Bumi Tangerang
27 Maret 2008


MANDI

Segala bau
Segala kotor
Menjelma pakaian yang tibatiba
Nempel di tubuh rombeng ini
Seperti lap pel yang terongok begitu saja
Di pelataran sebuah rumah

Segala bau
Segala kotor
Masuk kedalam apa saja yang lintas
Pada kanan-kiriku
Lalu jadi dunia sendiri
Semerawut juga dar-der-dor
Ditambah lagi beberapa ledak bom
Duar!

Nyanyian alir nyeru dari jauh...
Membacakan tarian
Sabun
Sikat
Sampo
Pasta gigi

Dan tubuh rombeng
Tubuh lap pel yang terongok
Memburu seruan itu
Perlahan memangkas habis
Sampai jadi abu
Segala bau
Segala kotor

Hegar Alam
6 September 2008


TANYA USAI PUISI DINYANYIKAN

Waktu mempersilahkan datang malam
Lalu kau membawaku kesuatu yang puisi
Ingin dinyanyikan
Itu kagumku lama tersimpan
Tapi puisi kau rumah kosong tak terawat

Detik ini usai puisi bernyayi
Tanyaku tentang sepi yang merundung
Tentang kasih yang mendung
Kau melantunkan kata-kata yang cocok bagi
Pijakan air mata
Ku sesal harus membangunkan
Sedu-sedan yang kau lama usaha kubur
Namun tak apalah
Terkadang kita harus ingat pada hidup
Yang terjalin atas tangis
Atas duka gerimis

Bumi Tangerang
27 Maret 2008

1 komentar:

  1. dik rozi kembara. saya terenyuh ketika membaca profil kamu. jiwa kamu yang lepas. jiwamu sama denganku: TUALANG.
    dik rozi, ada yang harus kita ingat dalam menulis puisi. apalagi puisi tsb ingin kita masukin ke media atau dibaca oleh orang banyak. hadirkan tema-tema lokal yang bisa membooming akhirnya menjadi global.
    hadirkan diksi dan keharmonisan dalam menulis sajak. hingga padu. jangan mencla-mencle... alias bait pertama dan kedua tak padu alias liar.
    kamu masih muda dan masih panjang jalanmu. salut
    saya yakin bila kau rajin bereksploitasi kau akan menjadi penyair besar. ingat itu

    salam
    tabik

    BalasHapus