Selasa, 16 September 2008

DISKUSI SENJA, MENYOAL SASTRA ISLAM


Oleh: Rozi Kembara

Ada satu fenomena yang merebak di perjagatan sastra indonesia, yaitu munculnya Forum Lingkar Pena yang di prakarsai oleh Helvy Tyana Rosa, Muthmainnah, dan Asma Nadia. Forum ini menghasilkan karya-karya dengan corak tersendiri yang berlainan dengan kebanyakan karya sastra kebanyakan. Bahkan sempat mengalami booming sekitar tahun 2003-2004. forum ini mengembar-gemborkan semangat sastra untuk dakwah sehingga dalam setiap karyanya kental dengan nuansa agamis.

Dengan munculnya Forum Lingkar Pena kemudian munculah istilah baru dalam jagat Sastra Indonesia, yaitu satra Islami. Sebenarnya ini bukan hal yang baru. Dulu sempat juga terdengar Sastra profetik yang di perkenalkan oleh Kunto Wijoyo atau sastra sufistik ole Abdul Hadi W.M dalam tiap puisinya. Nemun mereka tidak membawa nama islam dalam melabeli karya mereka.

Tema inilah yang di angkat pada diskusi Jum’at sore. Diskusi yang diadakan atas kerjasama Kubah Budaya dan Tabloid Kaibon ini akan berlangsung rutin setiap hari Jum’at sore hari selama bulan September sampai bulan November.

Sulaiman Djaya selaku pemakalah memaparkan makalahnya yang berjudul adakah sastra Islam?. Bermacam persoalan yang berkaitan dengan sastra islam di bahas dalam diskusi ini. Dari mulai bagaimankah sebenarnya sastra islam itu sampai pada pertanyaan adakah sastra islam.

Dalam makalahnya sulaiman Djaya mengkritik habis-habisan terhadap karya yang menamakan dirinya fiksi islami, ” Seringkali problem sosial di anggap sebagai problem moral dan keagamaan.
Dan acap kali sastera yang mengaku diri sebagai fiksi itu melakukan moralisasi dan estesisasi. Yang pertama kegandrungan pada kecenderungan untuk melihat masalah-masalah sosial bukan dengan mengunaka konsep-konsep sosiologis, tetapi dengan klaim moral yang kadang dogmatis dan tanpa pemeriksaan dan permenungan terlebih dahulu” demikain salah satu kutipan makalahnya tentang fiksi islam.

Dalam diskusi sore itu pul terjadi bermacam pertentangan antara satu peserta diskusi dengan peserta diskusi lainnya. Bahkan Sulaiman Djaya dengan tegas mengatakan bahwa sastar ialma itu tidak ada, ” sastra kok, di bagi-bagi. Nanti ada sastra Hindu, Budha , Kristen, sastra ya sastra,” Ujarnya .

Namun demikian Wan Anwar salah seorang sastrawan yang juga menjadi redaktur majalah sastra Horison menyatakan bahwa pengkategorian sastra itu perlu dalam dunia akademik.

Diskusi berakhir tepat saat adzan maghrib menggema. Di akhir diskusi Wan Anwar selaku penggagas dikusi sore mingguan itu berujar bahwa diskusi ini mendorong kita untuk lebih banyak membaca den memperkaya wawasan.

Dan para peserta diskusi kini hanyut dalam kenikmatan berbuka puasa usai larut dalam diskusi panjang. []

2 komentar:

  1. Semoga diskusiini akan menghasilkan sastrawan-sastrawan yang mendunia. Ide kadang dimulai dari diskusi dan menelurkan hasil yang terbaik dalam berkarya. Ditunggu diskusi selanjutnya.

    BalasHapus
  2. yah, diskusi adalah jendela kedua setelah buku..
    salam

    BalasHapus