Minggu, 31 Agustus 2008

SAJAK-SAJAK ROZI KEMBARA








SAJAK SEGELAS KOPI

Seperti sebilah pedang tajam
Menebas rindu tubuh pada rebah
Tumbang itu mimpi yang baru saja
Mengembangkan layar
Baru mau mulai perjalanan

Segelas kopi
Mengekalkan luka
Yang kuhimpun di tubuh keriput siang
Kemudian luka itu kubisikkan pada
Telinga malam yang setia mendengar
Menjadi dendang lagu yang disimpan dan jauh dari binggar
Untuk kemudian dinyanyikan

Tinggal setetes!
Maut mengintai di tempat
Yang tak seorang pun tahu
Ah, biar sejenak aku merasa
Mati tanpa perih sekarat
Kopi habis segelas sedang malam makin pekat

Ciloang,20 Agustus 2008



PADA SUATU MATA

Matamu menyimpan asap pabrik
Yang mengepul dijajaran hari
Itu keringat buruh yang makin rapuh

Lalu ada juga demonastran-demonstran
Yang mengacung-acungkan tangan
Seperti luapan luka yang lama
Terkurung
Masih di matamu itu

Matamu juga yang merekam
Limbah pabrik
Hanyut di perjalanan sungai
Sedang nyanyian maut menjadi
Aksesori tubuhnya

Kantuk sepertinya belum juga
Memenuhi undangan
Padahal jemu semakin menajam
Hampir-hampir saja menoreh luka baru
Bagi jiwa yang kemarin baru saja dipermandikan

Rumah Dunia
24 Agustus 2008

1 komentar:

  1. rapuh dan rapuh...di sulap menjadi robot-robot industri dan budak kapitalis.....

    BalasHapus