Minggu, 31 Agustus 2008

BIAR TUBUH YANG BERKATA: APRESIASI LAKON PEREMPUAN GERABAH


Oleh: Rozi Kembara

Suara tetabuhan menyambut penonton saat memasuki area panggung pertunjukan yang berbentuk melingkar. Setting panggung mirip dengan area pertunjukan teater pada zaman yunani kuno, melingkar dan untuk tempat duduk penonton berundak-undak.

Suara tetabuhan itu berasal dari beberapa hasil kesenian gerabah yang di pukul-pukul oleh lima orang actor sehingga menghasilkan irama yang alami. Demikain kesan pertama yang didapat olehku ketika pertamakali menginjakkan kaki di area pertunjukan lakon perempuan gerabah karya Nandang Aradea.

Lakon yang ditampilkan kali ini berbeda dengan kebanyakan lakon yang pernah ditampilkan. Jika kebanyakan lakon ditampilkan dengan jelas dan gamblang serta mudah di cerna oleh penonton sebab di berengi dengan dialog-dialog antar tokoh. Dan memang lazimnya setiap lakon selalu di iringi dengan dialog, tapi tidak untuk lakon perempuan gerabah.

dari awal hingga akhir pertunjukan penonton tidak akan menemukan sedikitpun dialog yang terjadi antar tokoh. Semuaya hanya gerakan tubuh. Dari mulai tarian ataiupun hanya sekedar isyarat ekspresisf.

Tetntu saja lakon semacam ini menuntut para penonton untuk lebih jeli memaknai atau menginterpretasikan setiap bagian dari pertunjukan lakon tersebut. Penonton di tuntut untuk merangkai kisahnya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Nandang Aradea Sutradara lakon tersebut, ” Demikian pun penonton , bukan sebatas menerima kisah tetapi berasosiasi menyusun kisah dalam dirinya”.

Tubuh dan segala yang berkaitan dengannya di eksplorasikan dengan sangat apik sehingga menjadi beragam metafor yang kaya akan makna. Sedangkan kata untuk sementara waktu dinonaktifkan. Uunutk sementara waktu biar tubuh yang berkata-kata dengan leluasa, sebab lama ia dibungkam dan dijajah oleh ribuan bahkan jutaan kata. Kata yang semakin hari terkontaminasikan kebusukkan dan kemunafikkan si empunya.

Demikian, lakon Perempuan Gerabah mennyemarakkan jagat Teater di ranah Banten ini dengan sajian yang berbeda dan tentu saja sarat akan beragam hal yang akan memperkaya jiwa si penontonnya, bukankah tugas setiap karya seni adalah unutk memperkaya batin manusia. Terakhir saya akan mengutip tulisan Nandang Aradea yang mewakili isi pertunjukan lakon ini, ” dan tubuh kita adalah tubuh yang berfikir, tubuh yang bekerja, tubuh yang tidak dikendalikan oleh negara, tubuh yang dalam sitem agama yang mendapat tantangan, tubuh yang terus tumbuh mencari kehidupan yang lebih otentik”. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar