Jumat, 29 Agustus 2008

MONOLOG ANZING


MONOLOG ANZING
:WASPADA! ADA ANJING DALAM DIRI KITA
Oleh: Rozi Kembara

Panggung itu berlatar belakangkan kain putih, sementara lampu di padamkan hanya satu penerang yang menyorot langsung kearah aktor yang sedang memainkan lakon monolog berjudul Anzing sehingga menimbulkan efek bayangan yang menmbah eksotika pertunjukan itu.

Monolog Anzing karya Rachman Sabur yang disutradarai oleh Opik dan dimainkan oleh Abdul Aziz dari teater Kafe Ide Universitas Sulthan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini menjadi bagian acara dari sekian rentetan acara dalam pagelaran seni Keranda Merah Putih rangka peringatan kemerdekaan republik tercinta yang ke enam puluh tiga ini.

Secara umum pengarapan monolog ini cukup apik, apa yang disampaikan dalam lakon monolog ini pun begitu mengelitik sisi kemanusiaan kita. Lakon monolog ini mecoba mengingatkan kepada kita bahwa ternyata terkadang manusia lebih anjing daripada anjing itu sendiri. Bisa dikatakan demikian karena satu hal, yaitu akal. Jika anjing berbuat bebas tanpa terikat dengan norma dan peraturan itu wajar, toh anjing tidak di anugrahi akal yang dapat menimbang mana baik dan mana buruk.

Sedangkan manusia yang entah sengaja atau tidak mencoba mensejajarkan dirinya dengan anjing itu tidak dapat dikatakan wajar sebab mausia di anugrahi akal yang dapat menimbang setiap hal yang akan dikerkjakan olehnya.

Secara mendasar manusia memiliki potensi untuk menjadi baik dan jahat. Saya menganalogikan potensi jahat manusia sebagai seekor anjing yang harus kita kerangkeng dan kita jaga agar tidak lepas. Maka waspada selalu setiap saat sebab anjing yang ada dalam diri kita ini selalu mengonggong dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.

”ANJING-ANJING MANUSIA” DI SENAYAN

Dalam salah satu bagian monolog sang aktor mengucapkan kata ”Anjing Manusia”. Saya menginterpretasikan kata ini sebagai ungkapan bagi manusia yang meniru dan berprilaku layaknya anjing. Rakus , asal serobot,dan berbuat semaunya.

Ada satu hal yang miris, Jenis ”Anjing Manusia” ini sekarang banyak berkeliaran di gedung yang terletak di kawasan senayan Jakarta. Tempat seluruh aspirasi rakyat ditampung. Tempat segala undang-undang dan kebijakan yang bersengkutan dengan bangsa ini digodok serta diputuskan.

Para ”Anjing Manusia” ini juga mengaku-ngaku sebagai wakil rakyat padahal pada kenyataannya mereka adalah penjilat sekaligus penindas rakyat. Di saat rakyat menderita karena naiknya segala kebutuhan pokok mereka asyik-asyikan menguras habis uang yang semestinya di salurkan kepada rakyat. Belum lagi bermacam skandal yang memalukan yang semestinya tidak dilakukan oleh (katanya) seorang wakil rakyat.
”Anjing-anjing Manusia” ini mengonggong setuju harga bahan bakar minyak dinaikkan dengan bermacam alasan yang sengaja dibuat-buat. Segala kebijakkan yang merugikan rakyat selalu di jawab dengan gonggongan lagu setuju sedang setiap kebijakkan yang menguntungkan rakyat selalu lamban terealisasikan bahikab mereka seolah berat untuk sekedar menyumbangkan gonggongannya.

Terlalu banyak ”Anjing Manusia” berkeliaran di gedung parlemen kita. Sehingga bermunculanlah beragam kabar miring tentang suap menyuap, korupsi, skandal sex dari dalam gedung yang sekarang seperti kandang binatang itu.

Mungkin lakon monolog berjudul Anzing karya Rachman Shabur ini perlu juga dipertunjukkan di area gedung DPR agar “Anjing Manusia” yang selama ini terlalu banyak merugikan rakyat terusik jiwanya kemudian tergrak hatinya untuk kembali menjadi manusia yang benar-benar manusia.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar