Senin, 18 Agustus 2008

MENGENANG MEREKA




Walau kesewenang-wenangan merajalela, meski penindasan tak juga reda, biarpun korupsi masih membudaya, kita harus tetaplah berbangga. Karna masih ada segelintir orang yang berani meneriakkan tidak untuk itu semua, masih bernyali untuk menentang serta mencetuskan perlawanan meski nyawa menjadi taruhannya.
Ini menandakan bahwa masih ada nurani ditengah hinggar binggar kebusukan banggsa kita.

Mereka orang-orang yang berani itu beberapa diantaranya kini tinggalah nama saja. Jiwa dan raga mereka pertaruhkan hanya demi tegaknya keadilan dibumi yang mereka cintai. Indonesia. Sepertinya hilangnya nyawa bukanlah hal yang perlu ditakuti dibandingkan dengan punahnya keadilan dan rasa kemanusiaan. Oleh karna alasan itulah bermacam cara dilakukan demi mencegah punahnya itu semua. Dan orang-orang yang hati nuraninya sekarat, kemanusiaannya megap-megap tak senang dengan aksi mereka semua itu. merka lebih senag keadilan punah, lebih bahagia bila rasa kemanusiaan tiada. Maka dirancanglah konspirasi-konspirasi busuk untuk mencegah bahkan sampai menghentikan aksi para pahlawan keadilan dan kemanusiaan itu. maka kita pun tahu apa yang akhirntya terjadi…

Marsinah seorang buruh wanita yang berani berhadap-hadapan dengan aparat ketika menuntut haknya ditemukan tewas mengenaskan. Mayatnya di temuka dipinggiran hutan jati Wilangan Nganjuk Jawa Timur dalam kondisi: luka robek tak teratur sepanjang 3 cm mulai dari dinding kiri lubang kemaluan sampai sedalam rongga perut. Di dalam ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Di samping selaput dara robek dan memar pada kandung kencing serta usus bagian bawah,sedangkan rongga perut mengalami pendarahan kurang dari satu lliter.

Udin, wartawan yang berani mengungkap kebobrokan para pejabat menegalami nasib yang serupa. Tewas di tembak secara misterius. Dan hingga kini belum terngkap siapa yang harus bertanggung jawab dalam peristiwa ini.

Munir, aktivis HAM yang tak pernah lelah menyerukkan keadilan juga menuntut diusutnya kasus penculikan 12 aktivis yang hingga kini belum ditemukan dan tidak diketahui nasibnya tewas setelah menyantap makanan yang telah dibubuhi racun di pesawat garuda dalam perjalanannya kenegri kincir angina belanda.

Wiji Thukul, penyair yang meneriakkan suara-suara mereka orang yang tertindas dalam puisi-puisinya hilang diculik dan hingga kini tidak diketahui rimbanya. Entah itu masih hidup atau sudah matikah?.

Di ulang tahun kemerdekaan yang ke enam puluh tiga ini mari bersama-sama mengenang jasa mereka para martir kemanusiaan. Perlu juga kita mempertanyakan status kemerdekaan bangsa ini. Benarkah segenap putra-putri bangsa merasakan kemerdekaan dalam segala hal? Sedang kita tahu kemiskinan menjamur dimana-mana, ongkos kebutuhan hidup yang melambung tinggi dan biaya pendidikan yang tidak memihak kepada orang-orang kecil. Benarkah kita benar-benar merdeka? Sepertinya para koruptor yang merasakan kemerdekaan, bebas mengasak uang rakyat kalaupun tertangkap hanya diberi hukuman yang tidak setimpal. Masihkah kita merdeka?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar