Selasa, 08 April 2008

SEKEDAR CATATAN HARIAN DAN BEBERAPA BAYI SPIRITUAL


Jum’at 4 april 2008
Cinta itu aneh, misterius. Dan seperti puisi. Aku kini sedang jatuh cinta. Pada siapa?
Terlalu mengada-ngada mungkin. Khayalan tingkat tinggi mungkin. Mimpi yang termat nonsens mungkin. Tapi kenyataannya cinta sedang memenjarakanku. Aku jatuh cinta pada seorang SSM(?). ya, bagaimana lagi. Hanya jatuh cinta tak ada yang melarang bukan.
Ada getar-getar yang teramat puitis pada rona wajahnya. Dan itulah yang menyebabkan aku jatuh cinta. Ia seperti bait-bait puisi cinta yang benar-benar nyata walau tak teraba. Dan terus mengocorkan inspirasi pada bilik-bilik imajiku.
Ada aura yang teramat puitis yag ku dapat pada rona wajahnya. Dan ini belum kutemukan pada rona wajah wanita-wanita yang kujumpai.
Ah… kau hanya bermimpi saja. Mungkin itulah kata yang pantas di sematkan kepadaku. Tak apalah, toh bermimpi itu gratis. Lagi pula siapa yang membatasi mimpi seseorang. Tidak adakan. Dan aku percaya mimpi itu kekuatan dalam hidup. Mimpi itu suatu petunjuk jalan bagi takdir hidup yang akan kulalui. Seperti yang dikatakan tokoh Arai dalam novel berjudul sang pemimpi” bermimpilah maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpi mu”
Aku jatuh cinta pada SSM(?). Hanya jatuh cinta. Toh cinta tak harus memiliki, walau sebenarnya jenis cinta seperti ini menayakitkan.
Ha… ha… ha…, terkesan konyol memang. Tapi mau bagaimana lagi, di benar-benar puitis bagiku. Dan aku mencintai setiap yang teramat puitis. Perkara aku memilikinya atau tidak. Biarlah takdir nanti yang menentukan. Bukankah takdir selau memberikan kejutan-kejutan yang sebelumnya tak terbayangkan.
Terakhir aku akan menuliskan lirk lagu DEWA 19 yang menggambarkan keadaan ku kali ini.
KASIDAH CINTA
Ku jatuh cinta kepadamu
Saat pertama bertemu
Salahkah aku terlalu mencintai…
Dirimu yang tak mungkin
Menintai aku
Oh…tuhan tolong
Aku langsung jatuh cinta
Kepadamu
Cinta pada pandangan pertama
Cinta yang bisa merubah jalan hidupku
Jadi lebih berarti
Oh… mungkin hanya keajaiban tuhan
Yang bisa jadikan hambanya yang cantik
Menjadi milikku
Aku bukanlah laki-laki
Yang mudah jatuh hatinya
jum’at 4 april 2008
TAKDIR DALAM GORESAN
Dan suatu takdir
Tela kau tiup
Dan suau takdir akan kau hirup
Seperti tangan tuhan yang bermain-main
Pada kiab catatan nasib
Begitulah kau dan catatan yang tergores
Adanya
Seperti tangan tuhan
Yang memutuskan
Begitulah adanya
Goresan-gorsan itu pun menentukan

Senin 7 april 2008
Membenci relitas mungkinkah? Sedang aku sendiri bediam dalam lingkupnya. Tapi sesekali membencinya tak apalah.
Kadang aku ingin realitas di sekitarku ideal. Sesuai dengan yang ada di angan. Namun kenyataan selalu tidk sesuai dengan apa yang di ingin.
Bilamana realitas menjemukan. Aku melarikan diri kedalam rimba kata. Dalam puisi, dalam cerita pendek, dalam novel, dalam apa saja…
Atau mungkin mencari suasana baru dengan melihat kenyataan hidup. Bisa juga dengan menonton film, sebuah cerminan dari realitas yang telah di hias sebegitu rupa. Ah… realitas tetaplah realitas[]
NIHIL
Dan sepanjang sapuan mata
Menagbur…
Mengabur…
Mengabur…
Mimpi tak selalu jumpa
Dalam jaga
Maka pergilah aku dalam puisi rimba
Jikalau di izikan penjarakan saja
Aku meniup jauh…
Jauh…
Jauh…
Jajaran hidup
Semakin redup
Sudah sepantasnya ku menutup
Dan jangan lempar aku
Pada hampar nyata
Yang mengabur…
Menagbur… mengabur…[]

Selasa 8 apri 2008
beberapa hari ini aku di sergap gelisah yang tak terbaca. Antara rindu, cinta, dan ragu semuanya satu padu
aku cinta pada sesuatu yang teramat langit. Aku rindu pada mimipi yang terlalu mengangkasa. Dan aku ragu pada suatu hal yang aku sendiri tak tahu apa itu.
Jika cinta itu pahit. Mengapa ia harus ada.
Ah… lelah pikiran ku kini. Jalan yang kupijak terasa licin. Puisi memanggil-manggil
Sedang aku termenung di ujung tebing yang teramat sunyi.
Cinta… cinta… cinta..
Wanita…wanita… wanita…
Aku mengabur dalamnya. Menanti takdir yang gelap[]

Selasa 8 april
Perasaan yang teramat kabut ini belum juga hilang dari suatu ruang dalam tubuh ku. Atau mungkin tak kan prnah hilang. Ia terus saj membayangi
Ada sketsa wajah seorang wanita dalam perasaan kabut itu. Wajah seorang wanita yang sering kupandangi di layar hand phone saat rindu menggebu. Wajah seorang wanita yang tanpa sengaja menanamkan beberapa benih sajak dalam imaji.wajah seorang wanita yang bersetubuh dengan sosok kreatif yang berlari-lari di dalam tempurung kepalaku
Ah…, sang pemimpi, sang pengkhayal. Itulah aku. Terlalu asyi bermain-main di taman langit. Hingga cinta, hingga wanitapun haruslah beraromakan langit. Tapi langit selalu melahirkan gelisah membuncah
Untuk kau di hampar bumi manapun. Aku hanya ingin berkata, walau kata ini tak terdengar, meski kata ini tak terbaca. Izinkan aku mencintaimu, memilikimu, dan menjadikanmu kekasih imaji.
Aku akan melahirkan bayi-bayi spiritual dari hasil persetubuhan kita di atas dipan, di sebuah kamar, di suatu mimpi[]

BAYI-BAYI SPIRITUAL ITU….
(1)
Lagu-lagu yang kau nyanyikan memindahkan
Adam dan hawa ke relung-relung ku
Maka jangan salahkan bila ada sepotong saja rindu yang angin
Berhembus di ladang impi
Menumbuhkan mawar tak tereja kapan tersampainya
kapan bersemainya

Jika aku adalah musafir
Maka kaulah fatamorgana saat dahaga
Menyelimut
Namun ku ingin fatamorgana yang tersentuh
Adakah?

Bumi Tangerang
24 Maret 2008

(2)
Sayang…
ku pinjam sejenak wajah mawar mu
pada barisan sajak-sajak
agar mimpi yang kabur ini terjaga
meski dalam bait-bait remang

sayang…
entah takdir mengizin
namun pelayaran ini takkan usai
ada angin berhembus membawa risalah
bagi jiwa penyair yang terlupa

sayang…
kupinjam sejenak wajah mawar mu
pada barisan sajak
puisi-puisi yang mengalir di situ
tak lah begitu saja ku acuh
sebab malam semakin tenggelam
dan takdir mencapai tengat
sedang syair belum juga rampung

Bumi Karawang
4 april 2008


(3)
Kemudian aku mendaki bukit bayang
Disana ada suatu cinta saja seperti bahtra
Yang berlayar di padang pasir
Aku menciduk angin dengan tangan menggigil
Pada awal hari yang teramat…

Suara-suara mu membawa suatu lagu
Dan jiwa yang ingin bertemu belahannya
Meronta
Ini hanya air yang coba memadamkan cahya surya

Kemudian aku mendaki bukit bayang
Di sana ada suatu cinta saja seperti bahtra
Yang berlayar di padang pasir

Dan pada suatu penghujung yang tak tereja
Seorang penyair memohon pada tuhannya
Agar segelas air benar-benar memadamkan cahya surya

Bumi Tangerang
4 april 2008

(4)
Lalu seperti apakah sebenarnya
Ombak yang deru ini
Seperti air bah yang menggenang di suatu musim
Namun aku ingin ombak membeku
Cukup sudah tubuh ini
Terombang
Cukup sudah tubuh ini
Terambing

Ada sekuntum mawar yang mengundang badai
Hanya kusimpan saja undangan itu
Untuk menciptakan badai cukup dalam sajak
Ternyata badai itu terlalu besar
Badai meluap
Maka terseretlah aku dalam pilihan diantara persimpang
Yang di bawanya
Dan pohon-pohon dalam tempurung kepala
Semakin tubuh subur serta kuat menancapkan akar
Sedang badai yang luber dari sajak
Tak juga bertemu kata usai

Bumi Tangerang
9 April 2008



















1 komentar: