Selasa, 08 April 2008

SAJAK-SAJAK


KATA YANG MEMANG KATAkata itu seperti yang bersabda
Saat jajaran malam beku
Dan bulan mati di ujung langit muram
Tak berjejak namun menusuk
Hingga ada yang berlumur darah
Dalam ku ini
Hal yang lama semedi namun asing
Hal yang lama bunyi namun hening
Semakin lama kata bukan lagi
Semacam sabda
Namun lebih dari itu
Seperti firman mungkin
Firman serupa kaf dan nun
Maka laut pun kehilangan ombak
Maka api lupa pada panas
Maka besi kemana kokohnya

Kata itu adalah kata
Dalam sabda maupun firman

Bumi Tangerang
26 Maret 2008

DALAM KU HUJAN TAK HENTI MENETES

Dunia kini kupijak siang
Pada pijakan lain malam
Atau sepotong pagi

Sepanjang melangkah dari air mata
Menuju pecahan tawa
Sejak api berkobar-kobar
Hingga embun bergelantung di sepi dedaun

Sampai ku layang kejalan nisan
Hujan ini tak juga reda
Menetes di tumpukan apa saja
Lalu gemericiknya di sambut senyum
Tunas-tunas baru

Hujan ini tak ingin reda
Selama ada hayat dan isinya
Akupun berkalang tanah merah
Dan hujan semakin deras di ranah yang lain
SEMACAM LIRIK DEWA 19

Ada yang berzikir degan semacam yang lain
Ada rumi pada tubuh serupa penyanyi pop
Ada jenar dalam album music yang di dengar tanpa di kenal
Ada al-ghazali yang menyelinap di rimbunan lirik lagu
Ada melupakan antara aku dan kamu di bait-bait sua
Ada tuhan yang ingin di kenal dalam wajah yang tidak seperi biasanyan



REPRODUKSI

Saat gerimis turun perlahan
Sayang…
Aku ingin menyimpan nyawa
Dalam darah dalam tubuh mu
Sebelun aku mencium aroma kenanga
Agar ada jejak bernafas yang menyambung
Langkah terputusku
Saat malam menyapu terang
Sayang…
Aku ingin meniup ruh
Dalam rahim dalam jantung mu
Suatu saat yang aku takkan pernah menginjak
Ruh itu memahat mimpiku
Mimpi yang tertanam bersamaan dengan tubuh
Layu semacam daun gugur

Bumi Tangerang
26 Maret 2008















SUATU SETAN YANG MEMBACA SAJAK

Sajak terbuka seekor setan membacanya
Menebak-nebak guratan nasib pada baitnya
Mungkinkah ada malam yang di sembunyikan
Atau petunjuk menuju samudra semisal jalan

Sajak itu di robeknya
Seperti ada api yang membakar
Seperti ada perih yang menampar

Sajak terbuka dan setanpun tertawa
Ia membaca namanya yang menyaru tuhan
Kemudian sajak itu di katakan nya sebuah sabda sebuah firman
Hingga puluhan kambing yang lupa arah menuju kandang
Menganguk-anguk saja mendengarnya
Lalu mengembik tak tahu apa yang harus di kata

Sajak itu sajak neraka
Di tulis dari didihan jahanam
Lalu menyebar melalui imaji-imaji hitam
Penyair yang lupa
Penyair yang mabuk

Bumi Tangerang
27 Maret 2008

TANYA USAI PUISI DINYANYIKAN

Waktu mempersilahkan datang malam
Lalu kau membawa ku kesuatu yang puisi
Ingin dinyanyikan
Itu kagumku lama tersimpan
Tapi puisi kau rumah kosong tak terawat

Detik ini usai puisi bernyayi
Tanyaku tentang sepi yang merundung
Tentang kasih yang mendung
Kau melantunkan kata-kata yang cocok bagi
Pijakan air mata
Ku sesal harus membangunkan
Sedu-sedan yang kau lama usaha kubur
Namun tak apalah
Terkadang kita harus ingat pada hidup
Yang terjalin atas tangis
Atas duka gerimis
Bumi Tangerang
27 Maret 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar