Minggu, 06 April 2008

RUMAH DUNIA, PENGOBAR SEMANGAT








Adakalanya seseorang yang menggeluti dunia tulis menulis mengalami kejenuhan dan kemalasan. Adakalanya mood menulis itu menurun. Saat-saat itulah seseorang yang menggeluti dunia tulis menulis harus bias menyiasati diri untuk mencari hal yang dapat mengembalikan mood dan mengatasi kejenuhan serta kemalasan yang sedang menyergap.
Dan bagiku hal yang dapat mengatasi kejenuhan serta kemalasa juga mengembalikan mood menulisku adalah dengan mendatangi komunitas tempat ku menimba ilmu tulis-menulis, komuitas Rumah Dunia. Setiap akhir pecan Rumah Dunia mengadakan pengarahan serta bimbingan dalam bidang jurnalistik maupun penulisan prosa fiksi. Para peserta sebagian besar terdiri dari para mahasiswa ini tergabug dalam kegiatan yang di namakan kelas menulis. Sekarang sudah menginjak angkatan kesebelas.
Ada perasaan plong sepulang dari kegiatan tersebut. Ada semangat yang kembali tergugah seusai mendengarkan pengarahan dari para pemateri senior yang telah terlebih dahulu merasakan asam- manis dunia kepenulisan. Motivasi yang terselip di setiap pembicaraan sangat menguatkan takad kami para pemula yang belum terlalu kuat dalam menapaki jalan ini. Jalan sunyi yang bernama kepenulisan
Selalu saja ada hal baru yang di dapatkan dalam forum pembelajaran ini. Entah itu pengalaman menarik dari para senior atau juga tips-tips dalam hal tulis-menulis dan tentu saja motivasi yang sanagt membangun.
Aku bisa menganalogikan Rumah Dunia dengan sebuah pom bensin di mana setiap kendaraan singgah dahulu di sana untuk mengisi bahan bakar untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Dan setiap bahan bakar habis kendaran ini pun pasti akan kembali mendatangi pom bensin. Mungkin analogi ini terlalu sederhana tak sebanding dengan keadaan Rumah Dunia itu sendiri.
Tulisan ini hanya sekelumit ungkapan puas atas apa yang kurasakan dan kudapatkan selama bergabung dalam komunitas Rumah Dunia. Ini sebuah embrio kebangkitan peradaban Indonesia, sebuah usaha penyebaran budaya baca tulis di tengah budaya hedonisme yang sedang merebak. Dan aku yakin suatu saat nanti dari sinilah akan lahir orang-orang cendikia yang memahami akan arti pentingnya ilmu dan berbagi sesama manusia[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar